NIAT DALAM MENUNTUT ILMU

Pentingnya Niat

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis sahih:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

Artinya, dalam setiap amal perbuatan, yang pertama kali diperhatikan adalah niatnya. Demikian pula dengan berkumpulnya kita di tempat ini untuk menuntut ilmu. Kita harus terlebih dahulu memperhatikan dan memperbaiki niat masing-masing.

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Apa yang kita niatkan, itulah yang akan mendapatkan balasan di sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Niat yang baik akan mendatangkan balasan yang baik.

Karena itu, dalam menuntut ilmu, khususnya ilmu agama, kita memerlukan niat yang benar agar segala sesuatu yang kita korbankan—waktu, tenaga, langkah kaki, apa yang kita lihat, dan apa yang kita dengarkan—mendapatkan nilai kebaikan di sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Semakin banyak niat baik yang kita hadirkan, semakin banyak pula ganjaran yang kita harapkan dari Allah.

Imam al-Ghazālī raḥimahullāh menjelaskan bahwa dalam satu perbuatan taat dapat dihimpun banyak niat kebaikan. Dengan demikian, satu amal dapat menghasilkan banyak pahala karena banyaknya niat baik yang menyertainya.

Misalnya, apabila kita menuntut ilmu dengan satu niat baik, kita memperoleh pahala dari niat tersebut. Apabila kita mempunyai dua niat baik, semakin bertambah pahala yang kita harapkan. Jika tiga niat, bertambah lagi. Begitu seterusnya.

Oleh karena itu, para ulama terdahulu berusaha menghadirkan sebanyak mungkin niat baik dalam melakukan suatu amal, agar satu amal menghasilkan banyak kebaikan di sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Demikian pula ketika kita datang untuk menuntut ilmu agama dan mempelajari sebuah kitab. Kita perlu memperbanyak niat yang baik.

1. Mencari Keridaan Allah

Niat pertama dalam menuntut ilmu adalah:

ابْتِغَاءُ مَرْضَاةِ اللهِ
Ibtighā’u marḍātillāh — mencari keridaan Allah.

Mengapa kita datang ke pengajian? Apa motivasi kita? Apa yang mendorong kita sehingga rela meluangkan waktu, mengeluarkan tenaga dan biaya, serta meninggalkan berbagai kesibukan?

Niat yang pertama dan utama adalah mencari keridaan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Keridaan Allah merupakan sesuatu yang sangat agung. Allah berfirman:

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ

“Dan keridaan Allah itu lebih besar.”

Keridaan Allah adalah anugerah yang sangat besar. Karena itu, ketika kita berangkat dari rumah menuju majelis ilmu, niatkan dalam hati:

“Saya menuntut ilmu untuk mencari keridaan Allah.”

Kita ingin menjadi hamba yang diridai dan dicintai oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

2. Mencari Hidayah untuk Mengamalkan Ilmu

Niat kedua adalah:

طَلَبُ الْهِدَايَةِ دُونَ مُجَرَّدِ الرِّوَايَةِ

Ṭalabul-hidāyah dūna mujarradir-riwāyah — mencari petunjuk, bukan sekadar mencari bahan untuk diceritakan atau disampaikan.

Kita menuntut ilmu bukan hanya untuk mempunyai banyak bahan pembicaraan. Jangan sampai seseorang datang ke pengajian hanya karena ingin mendapatkan bahan ceramah untuk disampaikan kepada orang lain.

Yang lebih utama adalah kita datang untuk memperoleh hidayah dan petunjuk bagi diri kita sendiri.

Artinya, kita berniat:

“Saya menuntut ilmu agar dapat mengamalkan ilmu yang saya pelajari.”

Setelah kita memahami dan mengamalkannya, tentu tidak mengapa ilmu tersebut kemudian kita sampaikan kepada orang lain. Namun, yang pertama adalah memperbaiki diri dan mengamalkan ilmu tersebut.

Jadi, niat kedua adalah mencari hidayah dan petunjuk agar ilmu yang kita pelajari dapat kita amalkan dalam kehidupan.

3. Melaksanakan Perintah Allah dan Rasul-Nya

Niat yang ketiga adalah:

اِمْتِثَالُ أَمْرِ اللهِ وَرَسُولِهِ

Imtitsālu amrillāhi wa rasūlih — melaksanakan dan menjunjung perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kita berniat:

“Saya menuntut ilmu dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.”

Menuntut ilmu adalah amal yang sangat ditekankan dalam agama. Karena itu, ketika seseorang berangkat ke majelis ilmu dengan niat menaati perintah Allah dan Rasul-Nya, kegiatan menuntut ilmu tersebut menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah.

Ilmu yang kita cari terutama adalah ilmu yang mendekatkan diri kita kepada Allah, ilmu yang membuat kita semakin mengenal Allah, semakin takut kepada-Nya, semakin taat, dan semakin baik amal kita.

Jadi, jangan hanya mencari ilmu yang menghibur atau sekadar menarik untuk didengar. Carilah ilmu yang membawa kita semakin dekat kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

4. Menyenangkan Para Malaikat

Niat yang keempat adalah menyenangkan para malaikat.

Mengapa kita berniat demikian?

Karena malaikat adalah makhluk yang taat kepada Allah dan dicintai oleh-Nya. Menyenangkan makhluk yang dicintai Allah karena melakukan ketaatan kepada-Nya merupakan suatu kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

“Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena rida terhadap apa yang dilakukannya.”

Malaikat menyukai dan memuliakan orang yang menuntut ilmu.

Karena itu, ketika kita berangkat menuntut ilmu, kita dapat berniat:

“Saya menuntut ilmu agar termasuk orang yang disenangi dan didoakan oleh para malaikat.”

Betapa mulianya orang yang menuntut ilmu. Ia berada dalam keadaan yang disenangi oleh para malaikat.

5. Memohon Ampunan, Rahmat, dan Keselamatan dari Neraka

Niat yang kelima adalah:

طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ

Ṭalabul-maghfirati war-raḥmati wan-najāti minan-nār — memohon ampunan Allah, mengharapkan rahmat-Nya, dan memohon keselamatan dari api neraka.

Kita berniat menuntut ilmu agar mendapatkan ampunan Allah, memperoleh rahmat Allah, dan mendapatkan keselamatan dari api neraka.

Betapa besar kemuliaan orang yang berjalan untuk menuntut ilmu. Setiap langkah yang dilakukannya menuju majelis ilmu diharapkan menjadi ibadah dan kebaikan.

Di majelis ilmu, kita mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis Rasulullah ﷺ, nasihat, dan berbagai ilmu agama. Semuanya menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah.

Karena itu, kita niatkan:

“Ya Allah, aku menuntut ilmu ini untuk mendapatkan ampunan-Mu, mengharapkan rahmat-Mu, dan memohon keselamatan dari api neraka.”

Menuntut ilmu merupakan sesuatu yang sangat mulia dan pahalanya sangat besar. Karena itu, ketika Allah memberikan kepada seseorang kemauan dan kesempatan untuk menuntut ilmu, hal tersebut merupakan nikmat yang sangat berharga.

Ilmu adalah sesuatu yang mahal dan sangat bernilai. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan dan petunjuk untuk menuntut ilmu. Maka, ketika hati kita digerakkan untuk datang ke majelis ilmu, hendaknya kita mensyukuri nikmat tersebut.

Adapun urutan niat berikutnya adalah sebagai berikut.

6. Mensyukuri Nikmat Akal, Kesehatan, dan Waktu Luang

Niat yang keenam adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan-Nya, khususnya nikmat akal, kesehatan, dan kelapangan waktu.

Kita berniat:

“Saya menuntut ilmu untuk mensyukuri nikmat akal, kesehatan, dan waktu luang yang Allah berikan.”

Hakikat syukur adalah menggunakan nikmat Allah untuk sesuatu yang diridai-Nya.

Kita mempunyai akal, maka kita gunakan akal itu untuk memahami ilmu. Kita diberikan kesehatan, maka kesehatan tersebut kita gunakan untuk datang ke majelis ilmu. Kita diberikan waktu luang, maka waktu tersebut kita manfaatkan untuk belajar.

Semua itu merupakan bentuk syukur kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Jadi, niatkan:

“Ya Allah, aku menuntut ilmu sebagai bentuk syukur atas nikmat akal, kesehatan, dan kelapangan waktu yang Engkau berikan kepadaku.”

Dengan demikian, sudah enam niat baik yang kita hadirkan dalam menuntut ilmu.

7. Mendengarkan Kalam Allah, Rasulullah ﷺ, Para Aulia, dan Ulama

Niat yang ketujuh adalah datang ke majelis ilmu untuk mendengarkan Kalam Allah, sabda Rasulullah ﷺ, serta nasihat para aulia dan ulama.

Kita berniat:

“Saya menuntut ilmu agar dapat mendengarkan Kalam Allah, sabda Rasulullah ﷺ, serta nasihat para aulia dan ulama.”

Di dalam majelis ilmu dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis Rasulullah ﷺ, dan nasihat para ulama. Semua itu merupakan ilmu yang sangat berharga.

Karena itu, ketika datang ke pengajian, jangan sekadar berniat hadir. Niatkan pula agar telinga kita mendengarkan Kalam Allah dan sabda Rasulullah ﷺ, sehingga hati kita memperoleh petunjuk.

Maka, semakin bertambah lagi niat baik kita dalam menghadiri majelis ilmu.

8. Membahagiakan Kedua Orang Tua

Niat yang kedelapan adalah:

إِفْرَاحُ الْوَالِدَيْنِ

Ifrāḥul-wālidain — membahagiakan kedua orang tua.

Orang tua yang baik tentu merasa senang apabila melihat anaknya rajin menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, kita dapat berniat:

“Saya menuntut ilmu untuk membahagiakan kedua orang tua saya.”

Bahkan apabila kedua orang tua telah meninggal dunia, kesalehan seorang anak tetap memberikan manfaat kepada mereka.

Maka, menuntut ilmu dapat kita niatkan sebagai salah satu bentuk birrul-wālidain, yaitu berbakti dan membahagiakan kedua orang tua.

Sebaliknya, betapa sedihnya orang tua apabila anak-anaknya justru melakukan kemaksiatan. Oleh sebab itu, jadikan kegiatan menuntut ilmu sebagai jalan untuk menjadi anak yang saleh dan membahagiakan orang tua.

9. Menghidupkan Syariat dan Sunnah Rasulullah ﷺ

Niat yang kesembilan adalah:

إِحْيَاءُ الشَّرِيعَةِ وَالسُّنَّةِ

Iḥyā’usy-syarī‘ati was-sunnah — menghidupkan syariat dan Sunnah.

Bagaimana syariat dan Sunnah Rasulullah ﷺ dapat terus hidup apabila tidak ada orang yang mempelajarinya?

Majelis ilmu merupakan salah satu tempat di mana syariat Allah dan Sunnah Rasulullah ﷺ dipelajari dan dihidupkan.

Karena itu, kita berniat:

“Saya menuntut ilmu untuk ikut menghidupkan syariat Allah dan Sunnah Rasulullah ﷺ.”

Dengan mempelajari Sunnah, mengamalkannya, kemudian menyampaikannya dengan benar kepada orang lain, kita ikut menjaga agar ajaran Rasulullah ﷺ tetap hidup di tengah umat.

10. Menghilangkan Kebodohan dari Diri Sendiri

Niat yang kesepuluh adalah:

إِزَالَةُ الْجَهْلِ

Izālatul-jahl — menghilangkan kebodohan atau kejahilan dari diri sendiri.

Manusia tidak dilahirkan dalam keadaan mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman bahwa manusia dilahirkan dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa.

Karena itu, kita membutuhkan ilmu.

Jangan sampai seseorang menjadikan ketidaktahuan sebagai alasan untuk terus meninggalkan kewajiban atau melakukan kesalahan, padahal ia memiliki kesempatan untuk belajar.

Orang yang hidup di tengah masyarakat Muslim, dekat dengan masjid, ulama, guru, dan majelis ilmu, memiliki kesempatan yang sangat besar untuk belajar agama.

Karena itu, jangan merasa cukup dengan ketidaktahuan.

Kita niatkan:

“Saya menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan dari diri saya sendiri.”

Dengan ilmu, kita mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal dan mana yang haram, serta bagaimana beribadah kepada Allah dengan benar.

Kejahilan dapat menyebabkan seseorang melakukan kesalahan besar tanpa menyadarinya. Oleh sebab itu, menghilangkan kejahilan merupakan salah satu tujuan penting dalam menuntut ilmu.

11. Berkumpul dengan Ulama dan Orang-Orang Saleh

Niat yang kesebelas adalah:

الِاجْتِمَاعُ بِالْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ

Al-ijtimā‘ bil-‘ulamā’ waṣ-ṣāliḥīn — berkumpul bersama para ulama dan orang-orang saleh.

Ketika kita datang ke pengajian, kita tidak hanya mendapatkan ilmu. Kita juga memperoleh kesempatan untuk duduk bersama para ulama, habaib, dan orang-orang saleh.

Berkumpul dengan orang-orang saleh memiliki pengaruh yang baik terhadap hati dan kehidupan seseorang.

Dalam kisah yang masyhur tentang seseorang yang telah membunuh seratus jiwa, ketika ia hendak bertobat, ia diperintahkan meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi menuju negeri yang dihuni oleh orang-orang saleh.

Ini menunjukkan pentingnya lingkungan.

Lingkungan yang baik membantu seseorang menjadi baik. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat membawa seseorang kepada keburukan.

Karena itu, ketika kita datang ke majelis ilmu, niatkan:

“Saya datang untuk berkumpul bersama para ulama dan orang-orang saleh serta mengharapkan keberkahan dari majelis mereka.”

Majelis zikir dan majelis ilmu merupakan perkumpulan yang penuh kebaikan. Walaupun seseorang datang dengan ilmu yang masih sedikit, selama ia mempunyai niat yang baik, mudah-mudahan ia mendapatkan bagian dari keberkahan majelis tersebut.

12. Amar Makruf Nahi Mungkar

Niat yang kedua belas adalah:

الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Al-amru bil-ma‘rūfi wan-nahyu ‘anil-munkar — mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Kita berniat:

“Saya menuntut ilmu agar dapat melakukan amar makruf nahi mungkar, baik terhadap diri saya sendiri maupun kepada orang lain.”

Bagaimana seseorang dapat mengajak kepada kebaikan apabila ia sendiri tidak mengetahui mana yang baik?

Bagaimana seseorang dapat mencegah kemungkaran apabila ia tidak mempunyai ilmu mengenai mana yang benar dan mana yang salah?

Karena itu, ilmu harus mendahului amal dan dakwah.

Kita belajar terlebih dahulu, kemudian mengamalkannya pada diri sendiri. Setelah itu, sesuai kemampuan dan dengan cara yang benar, kita mengajak orang lain kepada kebaikan.


RINGKASAN 12 NIAT MENUNTUT ILMU

Para muhibbin raḥimakumullāh,

Setiap kali hendak berangkat ke pengajian, alangkah baiknya apabila kita berhenti sejenak dan menghadirkan niat-niat yang baik dalam hati.

1. Mencari keridaan Allah

ابْتِغَاءُ مَرْضَاةِ اللهِ

Saya menuntut ilmu untuk mencari keridaan Allah.

2. Mencari hidayah dan mengamalkan ilmu

طَلَبُ الْهِدَايَةِ دُونَ مُجَرَّدِ الرِّوَايَةِ

Saya menuntut ilmu agar memperoleh petunjuk dan dapat mengamalkannya, bukan sekadar untuk mempunyai bahan pembicaraan.

3. Melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya

اِمْتِثَالُ أَمْرِ اللهِ وَرَسُولِهِ

Saya menuntut ilmu untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

4. Mengharapkan keridaan para malaikat

Saya menuntut ilmu agar termasuk penuntut ilmu yang disenangi dan dimuliakan oleh para malaikat.

5. Mengharapkan ampunan, rahmat, dan keselamatan dari neraka

طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ

Saya menuntut ilmu untuk memperoleh ampunan dan rahmat Allah serta keselamatan dari api neraka.

6. Mensyukuri nikmat Allah

Saya menuntut ilmu sebagai bentuk syukur atas nikmat akal, kesehatan, dan kelapangan waktu.

7. Mendengarkan Kalam Allah dan Rasul-Nya

Saya datang ke majelis ilmu untuk mendengarkan Kalam Allah, sabda Rasulullah ﷺ, serta nasihat para aulia dan ulama.

8. Membahagiakan kedua orang tua

إِفْرَاحُ الْوَالِدَيْنِ

Saya menuntut ilmu untuk membahagiakan dan berbakti kepada kedua orang tua.

9. Menghidupkan syariat dan Sunnah

إِحْيَاءُ الشَّرِيعَةِ وَالسُّنَّةِ

Saya menuntut ilmu untuk ikut menghidupkan syariat Allah dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

10. Menghilangkan kebodohan

إِزَالَةُ الْجَهْلِ

Saya menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan dan kejahilan dari diri sendiri.

11. Berkumpul dengan ulama dan orang saleh

الِاجْتِمَاعُ بِالْعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِينَ

Saya datang ke majelis ilmu untuk berkumpul bersama para ulama dan orang-orang saleh serta mengharapkan keberkahan majelis mereka.

12. Amar makruf nahi mungkar

الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Saya menuntut ilmu agar mampu mengajak diri sendiri dan orang lain kepada kebaikan serta menjauhi kemungkaran.


Perbanyak Niat Baik

Nah, dua belas niat ini hendaknya kita hadirkan setiap kali akan berangkat ke majelis ilmu.

Jangan sampai kita sudah menempuh perjalanan jauh, mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu, tetapi lupa menghadirkan niat.

Sebelum berangkat, duduklah sebentar dan hadirkan niat-niat yang baik:

“Saya mencari rida Allah. Saya ingin mengamalkan ilmu. Saya ingin menaati Allah dan Rasul-Nya. Saya mengharapkan ampunan dan rahmat Allah. Saya bersyukur atas nikmat kesehatan dan waktu. Saya ingin mendengarkan Kalam Allah dan Rasul-Nya. Saya ingin membahagiakan orang tua. Saya ingin menghidupkan Sunnah. Saya ingin menghilangkan kebodohan. Saya ingin berkumpul dengan orang-orang saleh. Dan saya ingin mampu melakukan amar makruf nahi mungkar.”

Kemudian ucapkan:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Lalu berangkatlah menuju majelis ilmu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.”

Insyaallah, apa yang kita niatkan dengan sungguh-sungguh akan Allah bantu untuk diwujudkan.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Asalkan kita benar-benar berniat dan bersungguh-sungguh, Allah akan memberikan petunjuk kepada jalan-Nya.


NIAT DAN DOA SEBELUM BELAJAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَوَيْتُ التَّعَلُّمَ وَالتَّعْلِيْمَ، وَالتَّذَكُّرَ وَالتَّذْكِيْرَ، وَالنَّفْعَ وَالِانْتِفَاعَ، وَالْإِفَادَةَ وَالِاسْتِفَادَةَ، وَالْحَثَّ عَلَى التَّمَسُّكِ بِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ، وَالدُّعَاءَ إِلَى الْهُدَى، وَالدَّلَالَةَ عَلَى الْخَيْرِ، ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ وَمَرْضَاتِهِ وَقُرْبِهِ وَثَوَابِهِ.

Artinya:

“Saya berniat belajar dan mengajar, mengingat dan mengingatkan, memberi manfaat dan mengambil manfaat, memberi faedah dan mengambil faedah, menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, menyeru kepada petunjuk, serta menunjukkan kepada kebaikan, demi mengharap keridaan Allah, kedekatan dengan-Nya, dan pahala-Nya.”



Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM UIKA

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM VERSI TASAWUF

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM