Filsafat Pendidikan Islam

 BAB I

PENGERTIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

 

            Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “shopia”. Philos artinya cinta yang sangat mendalam, dan shopia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi, arti filsaafat secara harfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadap kearifan atau kebijakan. Istilah filsafat sering dipergunakan secara popular dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam penggunaan secara popular, filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu), dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat).

            Pengertian filsafat menurut para filosof antara lain, menurut Plato ialah “pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli.” Menurut Aristoteles mengartikan filsafat sebagai “ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika.” Sedangkan menurut Al-Farabi memaknai filsafat sebagai “pengetahuan tentang hakikat sebagai yang sebenarnya”. Immanuel Kant mengartikan filsafat sebagai “pengetahuan yang menjadi pangkal pokok segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya: apa yang dapat diketahui (metafisika), apa yang seharusnya diketahui (etika), sampai di mana harapan kita (agama), apa itu manusia (antropologi).”

            Orang-orang Yunani, lebih kurang 600 tahun SM, telah menyatakan bahwa pendidikan ialah usaha membantu manusia menjadi manusia. Ada dua kata yang penting dalam kalimat itu, pertama “membantu” dan kedua “manusia”. Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Itu menunjukkan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia. Karena itulah sejak dahulu banyak manusia gagal menjadi manusia. Jadi, tujuan mendidik ialah me-manusia-kan manusia. Agar tujuan itu dapat dicapai dan agar program dapat disusun maka cirri-ciri manusia yang telah menjadi manusia itu haruslah jelas.

            Dalam arti luas, pendidikan merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam GBHN 1973 dikemukakan pengertian pendidikan bahwa, “pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu usaha yang disadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, yang dilaksanakan didalam maupun diluar sekolah, dan berlangsung seumur hidup”.

            Pengertian pendidikan dalam arti yang luas sebagai semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, dan keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkan generasi muda agar dapat memahami fungsi hidupnya, baik jasmani maupun rohani. Upaya ini dimaksudkan agar dapat meningkatkan kedewasaan dan kemampuan anak untuk memikul tanggung jawab moral dari segala perbuatannya. Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Dan tujuan dari proses perkembangan itu secara alamiah ialah kedewasaan, kematangan, dari kepribadian manusia. Dengan demikian, jelaslah bahwa pengertian pendidikan itu erat kaitannya dengan masalah yang dihadapi dalam kehidupan manusia

            Filsafat pendidikan menurut Al-Syaibany adalah “pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu dari segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis”. Selanjutnya Al-Syaibany berpandangan bahwa filsafat pendidikan, seperti halnya filsafat umum, berusaha mencari yang hak dan hakikat serta masalah yang berkaitan dengan proses pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha untuk mendalami konsep-konsep pendidikan dan memahami sebab-sebab yang hakikidari masalah pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha juga membahas tentang segala yang mungkin mengarahkan proses pendidikan.

            Pendidikan islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Pedidikan Islam juga bisa diartikan bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan himah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.

            Menurut Marimba, sebagaimana dikutip Bawani, Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

            Menurut definisi ini, ada tiga faktor yang mendukung pendidikan Islam. Pertama, harus ada usaha untuk mengembangkan potensi jasmani dan rohani yang dididik secara seimbang. Kedua, usaha tersebut didasarkan pada ajaran Islam, terutama didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadits. Ketiga, usaha tersebut bertujuan agar yang dididik pada akhirnya memiliki kepribadian utama menurut ukuran Islam yang jelas. Maka pendidikan Islam itu adalah membimbing orang yang dididik dengan berdasarkan ajaran Islam.

Filsafat Pendidikan Islam juga bisa diartikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam Islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia Muslim dan umat Islam. Di samping itu, Filsafat Pendidikan Islam juga merupakan studi tentang penggunaan dan penerapan metode dan sistem filsafat Islam dalam memecahkan problematika pendidikan umat Islam, dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat Islam.

            Dari beberapa definisi di atas dapat pemakalah simpulkan bahwasannya Filsafat Pendidikan Islam adalah “usaha untuk membimbing manusia secara mendalam, baik itu jasmani maupun rohani berdasarkan agama Islam supaya terbentuk pribadi yang utama sesuai dengan ajaran Islam”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

 

A.   Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam

Filsafat pendidikan Islam merupakan pengetahuan yang memperbincangkan masalah-masalah pendidikan Islam. Ruang lingkup filsafat pendidikan tidak akan jauh dari beberapa hal di bawah ini:

1.    Hakikat para pendidik dan anak didik.

2.    Hakikat materi pendidikan dan metode penyampaian materi.

3.    Hakikat tujuan pendidikan dan alat-alat pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.

4.    Hakikat model-model pendidikan.

5.    Hakikat lembaga formal dan nonformal dalam pendidikan.

6.    Hakikat sistem pendidikan.

7.    Hakikat evaluasi pendidikan.

8.    Hakikat hasil-hasil pendidikan.

Dalam filsafat pendidikan Islam, selain ruang lingkup yang diterangkan di atas, terdapat substansi pendidikan yang sangat penting, bahkan menentukan nilai sebuah proses pendidikan, yaitu:

1.    Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber ajaran dalam pendidikan Islam.

2.    Akhlak Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga untuk membentuk akhlak anak didik.

3.    Keimanan kepada seluruh ajaran Islam yang dapat diterima oleh hati dan akal yang sehat.

4.    Kehidupan dunia yang oleh ajaran Islam dibebaskan pengembangannya.

5.    Alam semesta yang diciptakan untuk kemakmuran manusia.

6.    Baik dan buruk.

7.    Pahala dan dosa.

8.    Ikhtiar dan takdir yang menjadi bagian dari rencana kehidupan manusia dan kehendak Allah SWT yang pasti adanya.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik pemahaman bahwa ruang lingkup filsafat pendidikan Islam berkaitan dengan pendekatan yang diterapkan adalah sebagai berikut:

1.    Ontologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat substansi dan pola organisasi ilmu pendidikan Islam.

2.    Epistemologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat objek formal dan materi ilmu pendidikan Islam.

3.    Metodologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pendidikan Islam.

4.    Aksiologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat nilai kegunaan teoritis dan praktis ilmu pendidikan Islam.

 

B.   Peranan Filsafat Pendidikan Islam

Peranan filsafat pendidikan Islam adalah harus mampu menjawab segala permasalahan dalam bidang pendidikan, baik yang berkaitan dengan sistem cara pengajarannya dan lain sebagainya. Sebagaimana disebutkan oleh Omal Muhammad Al-Taumi, Al-Syaibani bahwa filsafat Pendidikan Islam harus mampu memberikan pemanfaatan bagi hasanah Pendidikan Islam berupa :

1.    Membantu para perancang dan pelaksanaan pendidikan dalam membentuk pemikiran yang benar terhadap proses pendidikan.

2.    Memberikan dasar penilaian pendidikan secara menyeluruh.

3.    Menjadi dasar penilaian pendidikan secara menyeluruh.

4.    Memberi sandaran intelektual, bimbingan bagi terlaksana pendidikan untuk menghadapi tantangan yang muncul dalam bidang pendidikan, sebagai jawaban dari setiap permasalahan yang timbul dalam bidang pendidikan.

5.    Memberikan pendalaman pemikiran tentang pendidikan dan hubungannya dengan faktor-faktor spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik, dan berbagai kehidupan lainnya.

Menurut Juhahiyrini juga menyampaikan dan mengklasifikasikan tentang beberapa faktor yang menjadi peran dan tanggung jawab filsafat pendidikan Islam dalam memberikan solusi kepada permasalahan pada dunia pendidikan Islam. Filsafat pendidikan Islam memberikan alternatif-alternatif pemecahan terhadap problem-problem yang dihadapi oleh pendidikan Islam.

1.    Filsafat pendidikan Islam menunjukkan problem yang dihadapi oleh Pendidikan Islam, sebagai dari hasil pikiran yang mendalam dan berusaha untuk memahami segala permasalahannya. Dengan analisa filsafat, maka filsafat pendidikan Islam bisa menunjukkan alternatif-alternatif pemecahannya.

2.    Filsafat pendidikan Islam memberikan pandangan tersebut tentang manusia. Pandangan tentang hakekat tersebut berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan sekaligus meruapakan tujuan pendidikan menurut Islam.

3.    Filsafat Pendidikan Islam dan analisanya terhadap hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi bawaan yang harus ditumbuhkan dan diperkembangkan.

4.    Filsafat pendidikan Islam, dalam analisanya terhadap masalah-masalah Pendidikan Islam masa kini yang dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan agama Islam yang mampu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal atau tidak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

FUNGSI, TUJUAN SERTA HUBUNGAN

ANTARA FILSAFAT DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

 

Berasal dari bahasa yunani Philosophia yang berasal dari kata majemuk berupa philo yang bermakna cinta dan Sophia yang bermakna kebijaksanaan. Kata filsafat dikenal falsafah oleh orang arab, dan philosophy dalam bahsa inggris. Disisi lain juga bisa dijabarkan pengertianya seperti bijak dalam penggunaan akal budi, cerdas terhadap suatu permasalaha, pintar dalam segaa hal. Jadi arti dari filsafat adalah cinta kebijaksanaan.

John dewey berpendapat bahwa filsafat pendidikan adalah merupakan sesuatu studi untuk pembentukan kemampuan dasar bersifat fundamental, baik yang menyangkut intelektual (daya pakar), maupun emosional.

Selanjutnya pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi manusiawi setiap individu baik potensi fisik, cipta, rasa, maupun karsanyan, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi daam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiawian universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan yang harmonis serta dinamis. Filsafat pendidikan adalah filsafat yng digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Jadi kita mengkritisi suatu hnaya seputar dunia pendidikan.

Sesuai dengan pengertian filsafat sendiri yaitu adalah cinta terhadap kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktifitas yang menempatkan pengetahuan atau kebijaksnaan sebagai sasaran utamnya. Sebagai suatu agama, islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempuna dibandingkan dengan agama lainya yang pernah diturunkan tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang sempurna, islam dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman bahkan hingga akhir zaman. Agama islam berpedoman pada al-quran dan al-hadis.

Dapat dipahami dalam uraian diatas, bahwa filsafat pendidikan islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al-quran dan al-hadist sebagai sumber primer atau utama. Dengan demikian, filsafat pendidikan islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasar ajaran islam atau yang dijiwai oleh ajaran agama islam, jadi ajaran tersebut bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.

Ruang lingkup filsafat pendidikan Islam sama seperti ruang lingkup pada filsafat secara umum yang meliputi yaitu kosmologi, ontologi, epistimologi dan aksiologi. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1.    Epistimologi merupakan pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia didapat, apakah diperoleh melalui akal pikiran, apakah melalui pengalaman indrawi, apakah melalui perasaan/ilustrasi, apakah melalui Tuhan.

2.    Aksiologi merupakan pemikiran tentang masalah nilai-nilai, misalnya nilai moral, etika, estetika nilai religius dan sebagainya. Menurut George Thomas, aksiologi mengandung pengertian lebih luas daripada etika atau nilai kehidupan yang bertaraf lebih tinggi.

3.    Kosmologi merupakan pemikiran yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan lain-lain.

4.    Ontologi merupakan pemikiran tentang asal alam semesta, bagaimana proses penciptaan alam semesta dan kemana akhirnya. Pemikiran ontologi pada akhirnya akan menentukan bahwa ada sesuatu yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu bersifat kebendaan (materi) atau bersifat kerohanian (immateri), apakah ia banyak/berbilang atau tunggal/esa.

Tujuan Filsafat Pendidikan Islam yaitu untuk mendekatkan hamba kepada penciptanya, agar bisa lebih bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Dengan cara mampu berkomunikasi berdasar ajaran agama dengan informatif, baik, logis, dan benar.

Menurut Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam berfungsi sebagai pegangan pembelajaran untuk generasi yang berkepribadian muslim, sehingga generasi atau angkatan tersebut mengembangkan usaha pendidikan dan melakukan pembenaran bahkan penyempurnaan metode Filsafat sehingga membawa hasil yang lebih besar.

Ada beberapa metode dalam Filsafat Pendidikan Islam, diantaranya:

1.    Normatif; Fungsi adanya metode ini yaitu untuk mencari nilai, aturan, yang pastinya berkaitan dengan Pendidikan Islam. Sehingga segala proses pembelajaran sesuai dengan aturan dan ketentuan dari Al-Qur'an.

2.    Analisa konsep dan Analisa Bahasa; Dalam metode ini saling interdipandensi atau berhubungan karena analisa bahasa atau linguistic adalah media komunikasinya. Merupakan analisa mengenai istilah yang terdiri dari gagasan, ide, dan konsep. Yang berusaha menginterpretasikan terhadap arti dan makna suatu ide yang dimiliki.

3.    Metode Terpadu; Terdapu atinya memadukan unsur rasional-empiris dengan unsur intuisi. Maksudnya, dalam penyelesaian masalah dalam Pendidikan Islam tidak hanya mengandalkan salah satu unsur, tetapi memadukan dua unsur tersebut untuk cara pencari kebenaran.

4.    Spekulasi dan Kontemplasi; Kata spekulasi berasal dari bahasa inggris speculative yang berarti pemikiran, berasal dari bahasa arabfikri. Sedangkan kata Kontemplasi juga berasal dari bahasa Inggris contemplative yang bermakna merenung, dan bahasa arabtaammuliy. 

5.    Historical Philosophy Approach (pendekatan History); Dalam pemikiran Filsafat, peristiwa histori sebenarnya tidak mungkin terjadi, hanya sebagai petunjuk pada masa depan. Kata "Historis" memiliki makna sejarah. Atau bisa diartikan sebagai mengambil pelajaran di kejadian pada masa lalu, atau kejadian yang pernah terjadi.peristiwa dalam kehistorian terjadi karena hubungan sebab-akibat

6.    Metode Deduktif; Merupakan penalaran suatu kebenaran yang bersifat umum terhadap kebenaran yang bersifat khusus. Mengapa filsafat menggunakan metode ini? Karena sifat dari Filsafat yaitu rasional-logis dan lebih banyak mengangkat kebenaran yang sifatnya umum. Metode ini sangatlah pas digunakan dalam ilmu Filsafat.

Hubungan antara filsafat dengan teori pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:

1.    Ilmu Filsafat berfungsi mengarahkan teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh ahlinya, menurut pandangan yang mempunyai hubungan dengan kehidupan nyata. Artinya mengarahkan teori yang telah dikembangkan para ahli, agar bisa terealisasikan pada praktik pendidikan sesuai dengan kebutuhan yang sedang berkembang dalam masyarakat.

2.    Baik ilmu filsafat maupun filsafat pendidikan, pasti bertujuan memberi petunjuk dalam pengembangan teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan. Praktek pendidikan yang dilandaskan pendidikan filsafat tertentu, akan menghasilkan bentuk pendidikan tertentu pula.

3.    Dalam analisa filsafat, ilmu filsafat adalah salah satu cara pendekatan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan masalah pendidikan, dan menyusun teori pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HAKIKAT MANUSIA DAN MASYARAKAT

 

A.   Hakikat Manusia

Manusia dalam pengertian insan menunjukan makhluk yang berakal, yang berperan sebagai subyek kebudayaan. Dapat juga dikatakan bahwa manusia sebagai insan menunjukan manusia sebagai makhluk psikis yang mempunyai potensi rohani, seperti fitrah, kalbu, akal. Potensi inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi martabatnya dibandingkan makhluk- makhluk lainnya. 

Dalam pengertian yang telah dijelaskan diatas bahwa manusia mempunyai dua komponen yaitu jasmani dan rohani. Dengan kelengkapan fisik atau jasmani manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya yang memerlukan dukungan fisik dan dengan kelengkapan rohaninya ia dapat melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan dukungan mental. Selanjutnya untuk memfungsikan kedua unsur tersebut secara baik diperlukan pembinaan dan bimbingan disinilah pendidikan sangat diperlukan berikut ini penjelasan penulis antara dua komponen tersebut yaitu :

1.    Jasmani; Manusia sebagai pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini bisa diraih dengan jasmani yang sehat dan kuat sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 247 sebagai berikut : "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa” (Qs. Al-Baqarah:247). Aspek jasmaniah merupakan salah satu pokok untuk mendapatkan kemajuan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia, Kebutuhan jasmani berfungsi sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan manusia terutama sebagai sarana untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

2.    Rohani; Allah SWT berfirman dalam QS. AL-Hijr ayat 29, Artinya: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. AL-Hijr:29).

Dalam ayat tersebut bahwa Allah SWT menyempurnakan proses kejadian manusia dengan meniupkan ruh pada diri manusia maka ketika ruh telah ditiupkan maka pada saat itulah manusia dalam bentuk yang sempurna mempunyai sifat dan potensi untuk mengetahui sesuatu.

Berikut ini beberapa potensi rohani yang dimiliki oleh manusia yaitu :

1.    Fitrah; Kata fitrah (fathara) mempunyai arti belahan, muncul, kejadian dan penciptaan. Maka yang dimaksud fitrah adalah keadaan semula jadi atau bawaan sejak lahir manusia.

2.    Syahwat; Syahwat berasal dari bahasa arab syahiya-syaha yasyha-syahwatan secara lughawi berarti menyukai dan menyenangi. Sedangkan pengertian syahwat adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya.

3.    Akal (Aql); Akal yang berasal dari bahasa arab aqala yaitu mengikat atau menahan. secara umum akal difahami sebagai potensi yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Aqala mengandung arti yaitu mengerti, memahami, berfikir.

 

B.   Hakikat Masyarakat Dalam Islam

Hakikat masyarakat dalam Islam Masyarakat dalam Islam sering diistilahkan dengan ummat atau ummah. Istilah ummah berasal dari kata ‘amma, artinya bermaksud (qashada) dan berniat keras (‘azima).

Pengertian seperti ini terdiri atas tiga arti yakni “gerakan” dan “tujuan”, dan “ketetapan hati yang sadar”. Dan sepanjang kata ‘amma itu pada mulanya mencakup arti “kemajuan” maka tentunya ia memeperlihatkan diri sebagai kata yang terdiri atas empat arti, yaitu usaha, gerakan, kemajuan, dan tujuan.

Kata umat menurut al-Asfihani diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama yang sama, waktu atau tempat yang sama baik perhimpunannya secara terpaksa atau kehendak mereka sendiri .

Kata umat dalam al-Qur’an disebut sebanyak 52 kali dalam bentuk tunggal al-Damighani dalam kamus alQur’annya merinci sembilan pengertian, kata umat yang terdapat dalam al-Qur’an yaitu: Kelompok agama (tauhid), waktu yang panjang, kaum, pemimpin, generasi silam, umat Islam, orang-orang kafir, dan seluruh umat manusia Dalam al-Qur’an banyak sekali penggunaan Istilah umat yaitu sebagai berikut :

1.    Umat berarti agama yang satu

2.    Umat berarti segolongan/kelompok

3.    Umat berarti sekumpulan orang yang diberi peringatan

4.    Umatan wahidan berarti agama yang satu (Islam)

5.    Umat berarti agama

6.    Umat berarti pemeluk agama

7.    Umatan wasathan berarti umat yang seimbang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

HAKIKAT ALAM

 

A.   Pengertian Alam

Alam dalam pandangan Filsafat Pendidikan Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Kata alam berasal dari bahasa Arab ’alam (عالم ) yang seakar dengan ’ilmu (علم, pengetahuan) dan alamat (pertanda). Ketiga istilah tersebut mempunyai korelasi makna. Alam sebagai ciptaan Tuhan merupakan identitas yang penuh hikmah. Dengan memahami alam, seseorang akan memperoleh pengetahuan. Dengan pengetahuan itu, orang akan mengetahui tanda-tanda atau alamat akan adanya Tuhan. Dalam bahasa Yunani, alam disebut dengan istilah cosmos yang berarti serasi, harmonis. Karena alam itu diciptakan dalam keadaan teratur dan tidak kacau. Alam atau cosmos disebut sebagai salah satu bukti keberadaaan Tuhan, yang tertuang dalam keterangan Al-qur`an sebagai sumber pokok dan menjadi sumber pelajaran dan ajaran bagi manusia.

Istilah alam dalam alqur’an datang dalam bentuk jamak (‘alamiina), disebut sebanyak 73 kali yang termaktub dalam 30 surat. 15 Pemahaman kata ‘alamin, merupakan bentuk jamak dari keterangan al-quran yang mengandung berbagai interpretasi pemikiran bagi manusia.

Menurut Al-Rasyidin, dalam bukunya Falsafah pendidikan Islam bahwa kata `alamin merupakan bentuk prulal yang mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak dan beraneka ragam. Pemaknaan tersebut konsisten dengan konsepsi Islam bahwa hanya Allah Swt yang Ahad, Maha Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Kemudian beliau menuturkan kembali bahwa konsep islam megenai alam semesta merupakan penegasan bahwa alam semesta adalah sesuatu selain Allah Swt.

Dari satu sisi alam semesta dapat didefenisikan sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah (bentuk), yang dapat diklasifikasikan ke dalam wujud konkrit (syahadah) dan wujud Abstrak (ghaib). Kemudian, dari sisi lain, alam semesta bisa juga dibagi ke dalam beberapa jenis seperti benda-benda padat (jamadat), tumbuh-tumbuhan (nabatat), hewan (hayyawanat), dan manusia.

Menurut Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy al-Syaibany dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam menyatakan bahwa alam semesta atau alam jagat ialah selain dari Allah swt yaitu cakrawala, langit, bumi, bintang, gunung dan dataran, sungai dan lembah, tumbuh-tumbuhan, binatang, insan, benda dan sifat benda, serta makhluk benda dan yang bukan benda. Beliau juga menuturkan bahwa sebahagian ulama Islam mutaakhir membagi alam ini kepada empat bahagian yaitu ruh, benda, tempat dan waktu. Sedangkan manusia menjadi salah satu unsur alam semesta sebagai makhluk baharu dengan fungsi untuk memakmurkan alam semesta serta meneruskan kemajuaannya.

Menurut Shihab sebagaimana yang dikutip oleh Al-rasyidin dalam bukunya falsafah pendidikan Islam menerangkan bahwa semua yang maujud selain Allah Swt baik yang telah diketahui maupun yang belum diketahui manusia disebut alam. Kata `alam terambil dari akar kata yang sama dengan `ilm dan `alamah, yaitu sesuatu yang menjelaskan sesuatu selainnya. Oleh karena itu dalam konteks ini, alam semesta adalah alamat, alat atau sarana yang sangat jelas untuk mengetahui wujud tuhan, pencipta yang Maha Esa, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui. Dari sisi ini dapat dipahami bahwa keberadaaan alam semesta merupakan tanda-tanda yang menjadi alat atau sarana bagi manusia untuk mengetahui wujud dan membuktikan keberadaan serta kemahakuasaan Allah Swt.

Di dalam Al Qur'an pengertian alam semesta dalam arti jagat raya dapat dipahami dengan istilah "assamaawaat wa al-ardh wa maa baynahumaa". Istilah ini ditemui didalam beberapa surat Al Qur'an yaitu: Dalam surat maryam ayat 64 dan 65 :

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا # رَبُّ ٱلسَّمٰوٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَٱعْبُدْهُ وَٱصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِۦ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

            Artinya: Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa (64). Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)(65)

Dalam surat ar-rum ayat 22:

وَمِنْ اٰيٰتِهِ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَ لْوَا نِكُمْ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ

            ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui”.(Q.S. Ar Rum: 22)

Dalam surat al-anbiya ayat 16 :

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَآءَ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ

“Dan tidaklah kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main”. (Q.S. al Anbiya: 16)

Dapat ditarik kesimpulan bahwa alam semesta bermakna sesuatu selain Allah Swt, maka apa-apa yang terdapat di dalamnya baik dalam bentuk konkrit (nyata) maupun dalam bentuk abstrak (ghaib) merupakan bagian dari alam semesta yang berkaitan satu dengan lainnya. Untuk dapat Memahami dan meneliti alam yang kemudian menghasilkan science yang benar, haruslah melalui pendidikan yang benar dan berkualitas. Oleh karena itu, Islam mempunyai ajaran yang sangat penting dalam pendidikan, dalam rangka menghasilkan para scientist, ilmuwan atau ulama, yang kemudian akan memelihara dan memakmurkan alam ini.

 

B.   Tujuan Penciptaan Alam Semesta

Dalam perspektif Islam, tujuan penciptaan alam semesta pada dasarnya adalah sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktian tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah Swt. Keberadaaan alam semesta merupakan petunjuk yang jelas tentang keberadaaan Allah Swt. Oleh karena itu dalam mempelajari alam semesta, manusia akan sampai pada pengetahuan bahwa Allah Swt adalah Zat yang menciptakan alam semesta.

Omar menjelaskan bahwa alam semesta tercipta diperutukkan untuk manusia sebagai penerima amanah dengan menjadi khalifah di muka bumi ini. Alam dapat menjadi sumber ilham melalui potensi akal yang diberikan Allah swt kepada manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan hakikat-hakikat yang terdapat di dalam alam semesta ini. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa manusia akan memperoleh manfaat dan keuntungan yang amat besar apabila manusia tersebut mampu dan mengerti dalam memanfaatkan apa saja yang terdapat di alam semesta ini.

Al-qur`an dalam hal ini menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta bertujuan bukan menjadi seteru bagi manusia, bukan menjadi penghambat manusia dalam berpikir dan berkembang, juga bukan menjadi musuh manusia, akan tetapi alam semesta diciptakan oleh Allah Swt untuk bekerjasama dengan manusia dengan menggunakan alam sebagai sumber dan mediasi untuk mendapatkan respon ilmu, yang dapat membantu mereka dalam menjalankan amanah yang telah diberikan Allah Swt sebagai khalifah dalam menjalankan roda kehidupan dan serta dalam menjalankan kemaslahatan umat manusia seluruhnya.Kemudian juga di terangkan bahwa alam semesta merupakan ladang ilmu bagi manusia yang darinya dapat diperoleh berbagai manfaat dalam memenuhi segala kebutuhan manusia yang pada akhirnya manusia itu akan dituntut untuk dapat mensyukuri atas apa-apa yang mereka peroleh dan mereka nikmati dari pemberian Allah swt. Hal ini terlihat dari firman Allah swt dalam surat an-nahl:14 yaitu:

“Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”.

 

C.   Prinsip Filsafat Pendidikan Islam Tentang Alam

Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta yang berjalan dengan teratur itu harus dipahami sebagai keajaiban dan keagungan Sang Pencipta. Dengan ini pendidkan Islam harus dapat menunjukkan keajaiban dan keagungan ini, yaitu bahwa manusia tidak berdaya di hadapan Tuhan yang telah membuat alam ini sedemikian harmonis dan teratur.

Menurut al-Syaibany, Filsafat pendidikan Islam dapat menentukan pemikiran pendidikan Islam dan implementasinya di antara filsafat-filsafat pendidikan lainnya. Filsafat Pendidikan Islam sebagai ilmu harus mampu menentukan sikapnya terhadap permasalahan-permasalahan seputar alam. Sikap ini pada gilirannya melahirkan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan landasan filosofis bagi penentuan tujuan pendidkan, kurikulum, metode, dan komponen-komponen lainnya. Intinya, Filsafat Pendidikan Islam hendaknya dapat membina dan membangun pemikiran filsafatnya sesuai pandangan dan ajaran yang diambil dari sumber ajaran Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN

 

A.   Pengertian Ilmu Pengetahuan

Ilmu dalam bahasa Inggris disebut science berasal dari bahasa latin scientia (pengetahuan). Sinonim dalam bahasa Yunani adalah episteme. Pengetahuan dalam bahasa Inggris disebut knowledge. Sepanjang sejarah manusia dalam usahanya memahami dunia sekelilingnya mengenal dua sarana, yaitu pengetahuan ilmiah dan penjelasan gaib kini disatu pihak manusia memiliki sekelompok pengetahuan yang sistematis dengan berbagai hipotesis yang telah dibuktikan kebenarannya secara sah, tetapi dipihak lain sebagai pengenal pula aneka keterangan serba gaib yang tidak mungkin di uji sahnya untuk menjelaskan rangkaian peristiwa yang masih berarada diluarjangkauan pemahamannya.

Di antara rentangan pengetahuan ilmiah dan penjelasan gaib itu terdapat persoalan ilmiah yang merupakan kumpulan hipotesis yang dapat di uji, tetapi belum secara sah di buktikan kebenarannya.

Hirarki illustrasi bangunan ilmu pengetahuan di atas menunjukkan bahwa ontology ilmu ditempatkan sebelum epistemology dengan cara mengasumsikan “ada” realitas kemudian ditambahkan epistemology untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahui realitas tersebut. Hirarki dari bangunan ilmu pengetahuan tersebut yang dalam istilah Keith Lethrer adalah teori dogmatic epistemology. Konsepsi dari teori ini adalah dengan menempatkan ontology sebelum epistemology.

Selain dari teori dogmatic epistemology terdapat pula teori critical epistemologydimana teori ini merupakan bentuk revolusi dari teori dogmatic epistemology yang dalam prosesnya adalah menanyakan apa yang telah diketahui sebelum menjelaskannya, artinya bahwa teori ini berada pada wilayah mempertanyakan suatu pengetahuan awal secara kritis kemudian diyakini, meragukan sesutu yang  telah “ada” terlebih dahulu sebelum kemudian menjelaskannya setelah terbukti keber”ada”annya, dan berpikir dahulu sebelum meyakini dan atau tidak meyakini kebenarannya. Konsepsi dari teori ini menempatkan wilayah epistemic sebelum ontal atau ontology sebagaimana yang dapat dillustrasikan secara hirarki sebagai berikut:

Subyektifitas dan obyetifitas kebenaran ilmu merupakan hasil dari suatu bangunan ilmu yang memiliki ketergantungan pada kebenaran teori, metode dan cara memperolehnya. teori ilmu yang diterapkan oleh Para filusuf kuno tergolong masih sangat premature dimana mereka mencari unsur-unsur atau entitas-entitas yang dikandung oleh semua benda dengan menggunakan pertimbagan-pertimbangan empiris atau hasil-hasil pengamatan yang mendalam terhadap entitas-entitas tersebut yang dapat mendukung penjelasan yang satu atau yang lainnya. Mereka mendasaran jawaban mereka sedapat mungkin pada landasan-landasan epistemic dengan mempertimbangkan jenis-jenis apa yang dapat dimengerti secara sungguh-sungguh, sebagaimana halnya yang berdasar pada empiris dengan mempertimbangkan jenis-jenis entitas abadi yang mungkin dapat diperoleh dari dan atau dalam pengalaman.

Secara umum dapat dinyatakan bahwa prematurisme konsep teori ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh para filusuf klasik kuno didasarkan pada lima kemampuan yaitu; (1) Pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, (2) pengetahuan dari hasil pengalaman tersebut diterima sebagai suatu fakta dengan sikap receptive mind, dan jika terdapat keterangan-keterang epistemic tentang fakta-fakta tersebut, maka keterangan-keterangan tersebut adalah mitologi (mistis, magis dan religious), (3) kemampuan menemukan abjad dan bilangan alam yang menunjukkan terjadinya tingkat abstraksi pemikiran, (4) kemampuan menulis, menghitung dan menyusun kalender merupakan bentuk sintesis dari hasil abstraksi, (5) kemampuan meramalkan peristiwa-peristiwa fisis atas dasar a priori seperti hujan, gerhana dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang ingin menemukan pengetahuan, maka sebagai langka awal dia terlebih dahulu harus mempelajari teori-teori pengetahuan dalam perkembangan pengetahuan. Karena itu, usaha yang harus dia lakukan pertama kali  adalah  menegaskan tujuan pengetahuan, sebab pengetahauan tidak akan mengalami perkembangan dan perubahan apabila tujuan dari pengetahuan tersebut tidak diketahui dan dipahami. Karena pada prinsipnya ilmu  adalah usaha untuk menginterpretasikan gejala-gejala dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian, artinya fenomena ini baik berupa pengamatan empiric maupun penalaran rasio memerlukan teori sebagai landasan keterpahaman sesuatu yang dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan dalam pandangan para ahli mempunyai pengertian sebagai berikut :

Ralph ross dan Ernest van Den Hagg  dalam bukunya The fabric of sosiety menulis”sience is empirical, rational, general and cumulative and it is all four out once”   ( ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang empiris, rasional, umum, dan kumulatif, dan keempat-empatnya serempak).

Ashly mountagu dalam bukunya The cultured man menyebutkan bahwa”science is a systematized knowledge services service from observation, study, and Experimentation carried on onder to determaine the nature or principles of what being studied” (ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal  dari pengalaman, studi dan pengalaman, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari).

Di samping itu, ilmu pengetahuan mempunyai kedudukan tinggi dalam pandangan Islam, diantaranya adalah

1.    Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mencari kebenaran. Dengan menggunakan kekuatan intelegensi yang dibimbing oleh hati nurani, kebenaran-kebenaran tersebut sebagai tonggak sejarah yang pasti dilalui oleh semua manusia dalam perjalanan untuk mencapai kebenaran yang mutlak (Allah Swt.).

2.    Ilmu pengetahuan sebagai persyaratan amal shaleh; Hanya seseorang yang dibimbing oleh ilmu pengetahuan yang dapat berjalan di atas kebenaran, yang membawa kepada kebutuhan tanpa syarat kepada Tuhan yang Mahaesa.

3.    Ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengelola sumber-sumber alam guna mencapai ridla Allah;Ilmu pengetahuan merupakan instrumen untuk mencapai tujuan yang dikehendaki oleh Allah Swt. Yaitu mensejahterakan diri dan manusia lain guna mencapai ridho-Nya. Kesejahteraan itu dapat diperoleh jika manusia mengelola sumber-sumber alam dengan mengetahui hukum-hukum dan aturan-aturan yang memungkinkan manusia dapat mengelola dan memanfaatkan bumi dengan baik.

4.    Ilmu pengetahuan sebagai pengembangan daya pikir;Ilmu pengetahuan dapat dilihat dari dua visi, yaitu sebagai produk berpikir atau sebagai kegiatan yang mengembangkan daya pikir. Sebagai pengembang daya pikir karena ilmu pengetahuan merupakan alat untuk memahami dan membiasakan diri untuk berpikir secara keilmuan yang dapat mempertajam daya pikir manusia.Ilmu dapat dibagi menjadi beberapa bagian.

Jadi dapat kita ambil kesimpulan, bahwa ilmu pengetahuan adalah aktifitas intelektual yang sistimatis untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman secara rasional dan empiris dari berbagai segi kenyataan tentang alam semesta. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

 

B.   Pendekatan dan Metode Memperoleh Ilmu Pengetahuan

Ada beberapa pendapat tentang pendekatan dan metode memperoleh ilmu pengetahuan, antara lain :

1.    Skeptisme, Bagi aliran ini, tidak ada suatu cara yang sah unuk memperoleh ilmu pengetahuan, mengingat kemampuan panca indra dan akal manusia terbatas.

2.    Aliran keraguan (academic doubt), suatu aliran yang dalam perolehan ilmu pengetahuan berpangkal dari keraguan sebagai jembatan perantara menuju sebuah kepastian. Proses dari keraguan itu, dijadikan sebagai objek analisis lalu diadukan penyajian, sehingga kebenaran dapat dibuktikan dengan dalil.

3.    Empirisme, menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (empereikos = pengalaman). Dalam hal ini harus ada 3 hal, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman). Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 – 1704), George Barkeley (1685 -1753) dan David Hume. Cara pencarian ilmu pengetahuan melalui panca indra karena indra tersebut yang menjadi instrument untuk menghubungkan ke alam.

4.    Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta empiris. Cara pencaharian ilmu pengetahuan melalui akal, karena akal dapat membedakan antara yang baik dan buruk, yang benar dan salah. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 – 1650, Baruch Spinoza (1632 – 1677) dan Gottried Leibniz (1646 – 1716).

5.    Aliran yang menggabungkan antara pendekatan empirisme dan rasionalisme, aliran ini berkeyakinan bahwa cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu melalui pengertian dan pengindraan, karena pengertian tidak dapat melihat dan indra tidak dapat berpikir, sehingga rasio dan indra perlu di satukan.

6.    Intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba- tiba tanpa melalui proses pernalaran tertentu. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal. Pendekatan ini membagi alam atas dua kategori, yaitu: Alam pertama, yang dapat diobserpasi dan diekprementasikan oleh ilmu pengetahuan modern. Kedua, Alam intuisi, yang berkaitan dengan jiwa yang tidak mungkin dituduhkan dengan pengalaman atau analogi, alam kedua ini hanya bisa ditempuh melalui pendekatan intuisi.

7.    Wahyu, cara ini bersifat metafisik yang bercirikan transendental, lintas empiris dan supra- indrawi, serta supra rasio. Yang sejenis dengan wahyu adalah ilham, hanya saja wahyu khusus diberikan pada Nabi dan rasul. Sedangkan ilham diberikan kepada orang muslim pada umumnya. Manusia sebagai pengemban ilmu, sadar bahwa wahyu Tuhan merupakan pernyataan yang membawakan kebenaran yang paling dalam dan penuh dengan kebijaksanaan. Tugas manusia dalam kaitan ilmu pengetahuan adalah mencoba menelaah dan menafsirkan wahyu Tuhan untuk lebih memahami kebenaran yang lebih hakiki dan kebijaksanaan yang paling mendalam. Upaya penafsiran itu dimungkinkan mengalami perbaikan dan pengembangan berulang-ulang, karena penafsiran bukanlah firman tuhan yang diwahyukan tapi hasil insterpretasinya manusia dari firman tersebut.

Belajar ilmu merupakan suatu kewajiban. Hal ini disebabkan karena ilmu itu hal yang sangat penting. Ilmu harus dituntut karena merupakan ibadah.Ilmu merupakan anugerah  Allah yang diberikan kepada manusia.. Ilmu yang diberikan Allah Swt itu ada dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh manusia tanpa usaha. Ilmu ini sering di sebut ilmu ilmu ladunni. Kedua,  ilmu yang diperoleh karena usaha manusia. Ilmu semacam ini adalah ilmu kasbi. Al-Qur’an menginformasikan tentang ilmu kasbi ini jauh lebih banyak dari pada ayat yang berbicara tentang ilmu ladunni. Meskipun ada jenis ilmu yang diperoleh bukan dengan cara belajar, tetapi pada umumnya ilmu tersebut diperoleh dengan cara belajar. Dengan demikian belajar dalam menuntut ilmu merupakan hal yang mulia karena dapat mengangkat derajat orang tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VII

KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MENURUT IMAM AL-GHAZALI

 

 

A.   Biografi Imam Al-Ghazali 

Imam Al-ghazali atau nama lengkapnya abu hamid al ghazali yang terlebih di kenal sebagai Al-Gazel, al gahzali lahir pada 1059 M di kota Thus salah Ibukota Khurasan (persia) pada abad kelima hijriyah (450 H/ 1058 M )  Ia adalah sosok tokoh pemikir ulung islam yang di anugerahi gelar Hujjat al-islam (bukti kebenaran agama islam) dan Zayn ad-Din ( perhiasan agama).

Pada masa itu terdapat kemudahan dalam mencapai pendidikan tertinggi  bahkan orang yang berpangkat terendahpun bisa menempuh pendidikan dalam perguruan tinggi bisa di nikmati oleh penduduk miskin dan tersedia banyak  sarana yang secara cuma- cuma di situpun tersedia.

Ayah al ghazali adalah seorang yang wara, yang makan dengan hasil susah payahnya sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain ia termasuk seorang yang sangatlah pekerja keras ayah al ghazali pada waktu sengangnya bekerja sebagai peintal dan penjual wol, terkadang di waktu senggangnya beliau mendatangi para tokoh- tokoh fikih yang terkemuka seperti di tempat majlis dan tempat perkumpulan, dari definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa ayah al ghazali termasuk sosok yang pekerja keras tekun dan sabar.

Orang tuanya gemar mempelajari ilmu tasawuf, karena orang tuanya hanya mau makan dari hasil usaha tangannya sendiri dari merajut wol.Beliau terkenal juga sebagai pecinta ilmu dan selalu berdo’a agar anaknya kelak menjadi seorang ulama. Amat disayangkan umur beliau tidak cukup  untuk menyaksikan keberhasilan anaknya sesuai do’an beliau . Saat sebelum ayahnya meninggal, Al Ghazali mulai mengenal ilmu tashawuf, Ayahnya sempat menitipkan Al Ghazali pada saudaranya yang bernama Ahmad.

Untuk kelanjutan pendidikannya ghazali rela meninggalkan kota kelahirannya. Yang pada waktu itu baghdad dan nisapur adalah tepat pendudikan yang paling terkenal di daerah timur, beruntung sekali beliau memiliki guru yang terbaik yaitu dua guru besar islam imamul haramain yang menyemarakan kalangan sastra nishapur dan abu ishaq shirazi yang cemerlang di cakrawala sastra baghdad di kota ini al ghazali.

Pada masa itu dan dalam waktu yang tidak sngkat sebagai soerangmahasiswa al ghazali ingin mendpatkan ilmu yang mutlak benar atau bisa di sebut dengan ilmu yang sudahpasti kebenarannya dan tidak diragukan lagi sehingga kepandaian al ghazali tidak tertandinggi oleh kawan- kawanya al gahazali meruakan sosok mahasiswa yang sangat pandai sambil menuntut imu ia juga sbagai pembantu gurunya pada umur 28 tahun al ghazali terus menulis dan mengarang  dan al ghazali melakukan proses pendidikan di naisabur hingga imam al haramain wafat pada tahun (478 H /1085 M).

pada umur 34 tahun beliau pernah menjabat sebagai seorang rektor di universitas baghdad nizamailah beliaumengembara mencari kebenaran selama 12 tahun lamanya hingga mendapatkan kepuasan sufisme. Al ghazali termasuk tokoh ulama besar dalam bidang agama.

 

B.   Karya Imam Al-Ghazali 

Al ghazali adalah sosok tokoh yang banyak memiliki karya al ghazali termasuk tokoh islam yang paling terkenal di kalangan masyarakat arab pada kala itu beliau termasuk tokoh yang memliki  nafas yang sangat panjang dalam melampaui banyak karya- karyanya dan tak pernah kenal lelah sudah puluhan buku di tulisnya yang meliputi berbagai lapangan ikmu seperti halnya meiputi teologi islam (ilmu kalam) hukum islam (fikih) tasawuf, tafsir akhlak etika dan kesopanan sebagian buku yang di jelaskan kebanyakan ai tulis dengan bahasa opersia oleh al ghazali.

Kitab al ghazali yang paling Besar dan sangatlah terkenal adalah:

1.    ihya ulumuddin yang bisa dia rtikan menghidupkan ilmu-ilmu agama al ghazali mengarang buku tersebut tidak hanya berpacu padasatu tempat beliau mengerjakan buku tersebut pada banyak temat yang berbeda seperti di hijaz, syam, yerusalem yang berisikan paduan yang indah antara ikmu fiqh tasawuf dan filsafat buku ynag di tulis oleh al ghazali ini idak hanya terkenal di kalangan kaum muslimin tapi juga terkenal di kalangan barat

2.    al- munqidz min ad dlalal( penyelamatan dari kesalahan) buku ini beisi tentang sejrah perkembangan alam pemikirannya yng mencerminkan tentang sikapnya tentang berbagai macam ilmu serta pembahasan tentang jalamn menuju tuhan. 

3.     tahafut al falasifah

 

C.   Pemikiran Filsafat Imam Al-Ghazali

Ilmu yang berkaitan dengan masalah mendasar dari segala hal di sebut filsafat.Filsafat berusaha untuk membongkar realitas secara mendalam mengenai dasar-dasar terbentuknya, hal-hal prinsip yang membuat realitas ada, dan menjadi pandangan hidup atau pandangan seseorang dalam melihat realitas tersebut.

pertanyaan yang mendasar seperti Apa, Mengapa, Bagaimana menjadikan bagaimana permulaan filsafat bisa terjadi dan terbentuk Aktivitas filsafat tidak akan terjadi apabila tanpa adanya ada pertanyaan. Sebagai contoh timbulnya  pertanyaan tentang Apa dan Siapa Manusia, Apakah itu tuhan dan bagaimanakah wujud tuhan? Semuanya akan dijawab oleh aktivitas filsafat.

Filsafat berkembang menjadi pembicaraan tentang hal-hal yang abstrak dan tidak terlihat. Hal abstrak ini biasanya seperti nilai-nilai, ide, pemikiran, dan sistem di masyarakat perkembangan merubah realitas mengenai awal mula terbentknya filsafat . Adanya filsafat yang berupa realitas abstrak maka mulai muncul pemikiran-pemikiran dari filsafat yang akhirnya menjadi landasan sebuah kehidupan di masyarakat atau menjadi cara pandang hidup seseorang.

Menurut Dr. Dardiri, mengatakan di dalam dalam bukunya Humaniora, Filsafat, dan Logika, disebukan bahwa cabang-cabang filsafat adalah sebagai berikut :

1.    Metafisika, tujuan filsafat  dengan membongkar hal-hal yang ada di luar objek. Misalnya berkaitan dengan fungsi, manfaatnya, sebab munculnya,

2.    Epistemologi,tujuan filsafat dengan bagaimana seseorang bisa menghasilkan  pengetahuan cara berfikir tertentu

3.    Metodologi, tujuan Filsafat yang berkenaan dengan cara seseorang bisa menghasilkan pengetahuan tertentu

4.    Estetika, tujuan Filsafat yang berkenaan dengan baik buruknya suatu realitas

5.    Etika, tujuan Filsafat yang berkenaan dengan nilai keindahan suatu perilaku

6.    Logika, Filsafat yang berkenaan dengan valid atau tidak valid suatu pernyataan atau pemikiran yang diambil menggunakan kesimpulan.

Berikut penjelasan  ilmuwan yang berbicara dan menyatakan teorinya tentang filsafat pendidikan islam. Diantaranya adalah:

Pendidikan Islam ialah pendidikan Islami, pendidikan yang mempuny karakteristik dan sifat keislaman, yaitu pendidikan yang didirikan dan dikembangkan di atas dasar ajaran Islam menurut Muammad As-Said.

Al ghazali termasuk tokoh yang berpemikiran liberalis ynag cinta akan pengetahuan berbagai macam disiplin ilmu  seperti ilmu fikih, tasawuf , akhlak,logika, fisika dan lainnya. al ghazali berketetapan hati untuk menelaah kembali berbagai sistem filosofi dan teologi ia tidak pernah meracunkan dirinya deangan berbagai filosofi dan etika dalam kitab ihya ulumuddin di jelaskan bahwa yang di lakukan orang yunani seperti kegiatan sosial  yunani itu sangatlah bertolak belakang dengan realita yang ada bahwa perlakuan tersebut di lakukan hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Ghazali mengalihkan pada reformasi moral bangsa belia mengambil kesimpulan bahwa moral rakyat memburuk krena adanya kemerosotan peri kehidupan dalam kalangan para penguasa dan melemahnya akhlak para pemimpin ynag ada dan juga para ulama menjual hati nuraninya hanya untuk harta dan tahta.  Pemikiran al ghazali banyak ynag bertumpu pada tasawufia terlibat dalam berbagai aspek kehidupan misal diskusi ilmiah  karena banyaknya kalangan penguasa yang memntingkan dirinya sendiri akhirnya al ghazali mulai memberanikan diri untuk menyuarakan bahwa rakyat berhak untuk mengoreksi para penguasa demi kemajuan bersama.

 

 

 

BAB VIII

KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MENURUT IBNU KHALDUN

 

A.   Biografi Ibnu Khaldun

Ibnu khaldun adalah seorang filsuf sejarah yang berbakat dan cendekiawan terbesar pada zamannya, salah seorang pemikir terkemuka yang pernah dilahirkan. Beliau adalah seorang pendiri ilmu pengetahuan sosiologi yang secara khas membedakan cara memperlakukan sejarah sebagai ilmu serta memberikan alasan-alasan untuk mendukung kejadian-kejadian yang nyata.

Nama lengkap Ibnu Khaldun adalah Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami. Beliau dilahirkan di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H./27 Mei 1332 M, wafat 19 Maret 1406/808H. Beliau dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alqur'an sejak usia dini, selain itu beliau juga membahas tentang pendidikan islam. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan).

 

B.   Karya-karya Ibnu Khaldun

Ibnu khaldun terkenal sebagai ilmuwan besar adalah karena karyanya “Muqaddimah”. Karya monumentalnya itu telah membuat para sarjana baik barat maupun di Timur Tengah begitu mengaguminya.

Sebenarnya Ibnu Khaldun sudah memulai kariernya dalam bidang tulis menulis semenjak masa mudanya, tatkala ia masih menuntut ilmu pengetahuan dan kemudian dilanjutkan ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintahan. Adapun hasil karya-karyanya yang terkenal di antaranya adalah :

1.    Kitab Muqaddimah, yang merupakan buku pertama dari kitab Al ibar, yang terdiri dari bagian muqadimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku tersebut pulalah yang mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum. Adapun Tema muqadimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya.

2.    Kitab Al ‘Ibar wa diwan al mubtada wa al khabar, fi ayyam al a’rab wa al ‘ajam wa al barbar, wa man asharuhum min dzawi as sulthani al akbar, yang kemudian terkenal dengan kitab Al ‘Ibar.

3.    Kitab At Ta’rif Ibnu Khaldun wa Rihlatuhu Syarqan wa Gharban atau disebut secara istilah dengan At Ta’rif, dan oleh orang-orang barat disebut dengan otobiografi, merupakan bagian terakhir dari kitab Al ‘Ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai kehidupan Ibnu Khaldun. Dia menulis outobiografinya secara sistematis dengan menggunakan metode ilmiah, karena terpisah dalam bab-bab, tapi saling berhubungan antara satu dengan yang lain.

 

C.   Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun

Pandangan Ibnu Khaldun tentang pendidikan berpijak dari statementnya yang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Kesempurnaan manusia dicirikan oleh akhlaknya yang berfungsi memikirkan segala sesuatu, merekayasa sesuatu, dan bahkan meningkatkan rasa iman kepada Allah. Allah membedakan manusia karena kesanggupannya berpikir, yang merupakan sumber dari segala kesempurnaan dan puncak segala kemuliaan dan ketinggian di atas makhluk lain. Manusia bukan hanya memiliki kesadaran untuk mengetahui, tetapi memahami dan mempraktikkannya.

1.    Tujuan Pendidikan

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal. Samsul Kurniawan dan Erwin Mahrus menyebutkan tiga tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun, yaitu:

a.    Tujuan peningkatan pemikiran; Ibnu Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan pen-didikan adalah memberikan kesempatan pada akal untuk lebih giat dan melaksanakan aktivitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan keterampilan.Dengan menuntut ilmu dan ketrampilan, seseorang akan dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Di samping itu, melalui potensinya, akan mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Melalui proses belajar, manusia senantiasa mencoba meneliti pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi yang diperoleh oleh pendahulunya. Atas dasar pemikiran tersebut, tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun adalah peningkatan kecerdasan manusia dan ke-mampuannya berfikir. Dengan kemampuan tersebut, manusia akan dapat meningkatkan pengetahuanya dengan cara memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan pada saat belajar.

b.    Tujuan peningkatan kemasyarakatan; Menurut Ibn Khaldun, ilmu dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat ke arah yang lebih baik. Semakin dinamis budaya suatu masyarakat, semakin bermutu dan dinamis pula keterampilan masyarakat tersebut. Untuk itu, manusia seyogyanya berusaha memperoleh ilmu dan keterampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat hidup dengan baik dalam masyarakat yang dinamis dan berbudaya.

c.    Tujuan pendidikan dari segi keruhanian; Tujuan pendidikan dari segi keruhanian adalah dengan meningkatkan  keruhanian manusia dengan menjalankan praktik ibadah, dzikir, khalwat (menyendiri), dan mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagaimana yang dilakukan para sufi. Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu pe-ngetahuan akan tetapi juga untuk mendapatkan keahlian. Dia telah memberikan porsi yang sama antara apa yang akan dicapai dalam urusan akhirat dan duniawi, karena baginya pendidikan adalah jalan untuk memperoleh rizki. Maka atas dasar itulah Ibn Khaldun beranggapan bahwa target pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena dia memandang aktivitas ini sangat penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu. Karena kematangan berfikir adalah alat kemajuan ilmu industri dan sistem sosial.

 

2.    Pendidik

Ibnu Khaldun memandang bahwa usaha mendidik yang dilakukan pendidik adalah pekerjaan yang memerlukan keahlian. Konsenkuensi dari pandangan ini adalah bahwa untuk menjadi seorang pendidik diperlukan kualifikasi tertentu, antara lain pendidik harus memiliki pengetahuan tentang perkembangan kerja akal secara bertahap. Pendidik juga dituntut untuk memiliki ilmu metodologi mengajar sesuai dengan perkembangan akal tersebut. Seorang pendidik tidak saja memiliki ilmu yang akan diajarkan, tetapi juga harus memiliki ilmu mengajar atau memahami cara mengajar yang baik, agar tidak membingungkan peserta didik sehingga tujuan pendidikan tidak terpenuhi.

Seorang pendidik akan berhasil dalam tugasnya apabila memiliki sifat-sifat yang mendukung profesionalismenya. Adapun sifat-sifat tersebut adalah :

a.    Pendidik hendaknya lemah lembut, senatiasa menjauhi sifat kasar, serta menjauhi hukuman yang merusak fisik dan psikis peserta didik, terutama terhadap anak-anak yang masih kecil. Hal ini disebabkan, karena dapat menimbulkan kebiasaan yang buruk bagi mereka (peserta didik); seperti pemalas, berdusta dan tidak jujur, atau berpura-pura menyatakan apa yang tidak terdapat di dalam pikirannya. Sikap yang demikian dapat terjadi disebabkan karena merasa takut disakiti dengan perlakuan yang kasar, terutama jika mereka berkata yang sebenarnya.

b.    Pendidikan hendaknya menjadikan dirinya sebagai Uswah al-Hasanah (suri teladan) bagi peserta didik. Keteladanan di sini dipandang sebagai suatu cara yagn ampuh untuk membina akhlak dan menanamkan prinsip-prinsip terpuji kepada jiwa peserta didik. Menurut Ibn Khaldun, peserta didik akan memperoleh ilm pengetahuan, ide, akhlak, sifat terpuji dan pendidikan adalakanya dengan meniru atau melakukan kontak pribadi dengan lingkungannya, khususnya kepribadian para pendidik.

c.    Pendidik hendaknya memperhatikan kondisi peserta didik dalam memberikan pengajaran, sehingga metode dan materi dapat disesuaikan secara proporsional.

d.    Pendidik hendaknya mengisi waktu luang dengan aktivitas yang berguna. Menurut Ibn Khaldun, diantara cara yang paling baik untuk mengisi waktu senggang adalah dengan membiasakan anak membaca, terutama membaca al-Qur’an, sejarah, syair-syair, hadis nabi, bahasa Arab, dan retorika[16].

e.    Pendidik harus professional dan mempunyai wawasan yang luas tentang peserta didik, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya, serta kesiapan untuk menerima pelajaran. Di antara sikap terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pendidik ialah kemampuan mengungkapkan diri dengan jelas dalam dialog dan diskusi, serta mencoba menyampaikan kemampuan ilmiah kepada peserta didik yang dianggap sebagai suatu keahlian dalma pelajaran.

 

3. Klarifikasi Ilmu Pendidikan

Adapun pandangannya mengenai materi pendidikan, karena materi adalah merupakan salah satu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini, Ibnu Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang banyak dipelajari manusia pada waktu itu menjadi dua macam yaitu:

a.    Ilmu-ilmu Tradisional (Naqliyah); Ilmu Naqliyah adalah yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas Syariat yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits.[13] Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu fikih, ilmu kalam, ilmu bahasa arab, ilmu tasawwuf, dan ilmu ta’bir mimpi.

b.    Ilmu-ilmu Filsafat atau Rasional(‘Aqliyah); Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di dunia. Menurut Ibnu Khaldun ilmu.

            Filsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu yaitu:

a.    Ilmu Logika

b.    Ilmu Fisika

c.    Ilmu Metafisika

d.    Ilmu Matematika.

Setelah mengadakan penelitian, maka Ibnu Khaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi anak didik menjadi empat macam.

Empat macam pembagian itu adalah:

Ilmu agama (syariat) yang terdiri dari tafsir, hadits, fikih, dan ilmu kalam.

Ilmu ‘aqliyah yang terdiri dari ilmu kalam, (fisika) dan ilmu ketuhanan (metafisika)

Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syariat), yang terdiri dari ilmu bahasa Arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu pelajaran agama.

Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu logika.

Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan hanya tumbuh dalam peradaban dan kebudayaan yang berkembang pesat. Perkembangan kebudayaan sangat bergantung pada cara berpikir masyarakat, sedangkan perkembangan dan kemajuan pemikiran masyarakat bergantung pada pendidikannya. Oleh karena itu, jika menginginkan kemajuan imu pengetahuan, manusia harus mengembangkan pendidikan sebaik mungkin.

 

4. Metode Pengajaran Pendidikan Islam

Ibnu khaldun menetapkan bahwa metode mengajar, sebaiknya, harus diterapkan dalam proses mengajarkan materi ilmu pengetahuan atau mengikutinya (Guidance ancausile), karena dipandang pengajaran tidak akan sempurna kecuali harus dengan metode itu. Maka seolah-olah metode dan materi merupakan satu kesatuan, padahal ia bukanlah bagian dari materi pelajaran, yang bukti-buktinya ditunjukkan dengan adanya kenyataan bahwa dikalangan tokoh pendidikan terdapat metode-metode yang berbeda-beda.

Dapat dikatakan bahwa Ibnu Khaldun sebagai pendidik yang berkemampuan mengajar berpendapat bahwa kedayagunaan metode yang dapat digunakan untuk menyampaikan pengetahuan kepada murid bergantung pada sejauh mana kematangan persiapan guru dalam mempelajari hidup kejiwaan anak-anak didiknya. Sehingga diketahui sejauh mana kematangan kesiapan mereka dan bakat-bakat ilmiahnya. Maka jelaslah bahwa pendapat di atas sampai batas-batas tertentu sesuai dengan pandangan ilmu pendidikan modern.

Berikut ini metode pengajaran dan pendidikan yang ditawarkan Ibnu Khaldun :

a.    Metode Pentahapan dan Pengulangan (Tadarruj Wat Tikrāri).

b.     Menggunakan Sarana Tertentu untuk Menjabarkan Pelajaran.

c.    Widya-wisata merupakan Alat untuk Medapatkan Pengalaman yang Langsung.

d.    Memberikan Presentasi yang Rumit Kepada Anak yang Baru Belajar Permulaan.

e.     Harus Ada Keterkaitan Dalam Disiplin Ilmu.

f.     Tidak Mencampurkan Antara Dua Ilmu Pengetahuan Dalam Satu Waktu.

g.    Sanksi Terhadap Murid Merupakan Salah Satu Motivasi Dorongan Semangat Belajar (Bagi Murid yang Tidak Disiplin).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IX

KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MENURUT IBNU MISKAWAIH

 

A.   Biografi Ibnu Miskawaih

Ibnu Miskawaih, seorang Filosof Islam ini memiliki nama lengkap Abu ‘Ali Ahmad Ibnu Muhammad IbnuYa’qub Miskawaih. Dilahirkan di kota Ray (Iran), dekat kota Teheran pada tahun 320 H / 932 M. Sementara wafatnya pada 9 Shafar 421 H di kota Isfahan. Ibnu Miskawaih memiliki beberapa julukan, salah satunya yaitu, Al-Khozin (pustakawan) karena dipercaya untuk menangani buku-buku Ibn al-Amid dan Adud ad-Daulah Ibn Bawaih. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa julukan tersebut berarti “bendaharawan”, yang diberikan kepada Ibnu Miskawaih pada masa kekuasaan ‘Ahdu al-Daulah dari bani Buwaihi.

Ibnu Miskawaih dikenal sebagai seorang bendaharawan, sekretaris, pustakawan, pendidik anak para pemuka dinasti Buwaihi. Selain akrab dengan para penguasa, Ibnu Miskawaih juga dekat dengan para ilmuwan seperti Ibnu Sina. Selain itu, Ibnu Miskawaih juga dikenal sebagai sejarahwan yang terkenal. Selanjutnya beliau juga dikenal sebagai dokter, penyair, dan ahli bahasa. Hal itu dibuktikan juga dengan karya – karyanya dalam berbagai buku dan artikel yang berjumlah tidak kurang dari 40 buah.

Ibnu Miskawaih adalah seorang Filosof muslim yang memusatkan perhatiannya pada bidang etika Islam. Selain itu semua beliau juga mempelajari ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu bahasa, ilmu kedokteran, ilmu fiqih, hadis, matematika, musik, ilmu militer, dan lain sebagainya.

Ibnu Miskawaih adalah seorang yang berpengatahuan luas, yang menguasai berbagai bidang keilmuan. Selain dikenal sebagai seorang filsuf, Ibnu Miskawaih juga dikenal sebagai seorang penulis buku. Kedudukannya sebagai bendahara di Dinasti Buwaihi tidak membuatnya malas untuk menulis buku, sebagai berikut adalah karya-karya beliau :

·         Bidang Metafisika : al-Fauz al-Asghar fi Ushul al-Dinayat

·         Bidang Etika : Kitab al-Fauz al-Akbar, Kitab Thaharah an-Nafs, Kitab Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir al-‘Araq, Kitab as-Siyar (tentang tingkah laku kehidupan)

·         Bidang Politik dan Hukum : Kitab Tartib as-Sa’adah (tentang aklak dan politik), Kitab Jawizan Khard

·         Bidang Kedokteran dan Hidangan: Kitab al-Jami’, Kitab al-Adwiyah (tentang pengobatan sederhana), Kitab al-Asyribah (tentang minuman)

·         Cabang Estetika dan Sastra: Kitab al-Mustafa (berisi syair-syair pilihan), Uns al-Farid (koleksianekdot, syair, dan peribahasa)

·         Bidang Psikologi: Maqalat fi an-Nafsi wa al-‘Aqli

 

B.   Kerangka Berfikir Ibnu Miskawaih

Sebelum kita mengkaji tentang pemikiran pendidikan Ibnu Miskawaih, perlu kiranya lebih dahulu kita kaji tentang kerangka berfikir beliau, hal itu karena pemikiran Ibnu Miskawaih tentang pendidikan sangat terkait dengan kerangka berfikir yang beliau bangun. Sebagaimana diterangkan dalam biografi diatas, bahwa Ibnu miskawaih adalah tokoh pemikir Islam yang dibesarkan dari kalangan filsafat oleh karenannya tidak heran jika kerangka berfikir beliau juga dalam koridor filsafat. Untuk mengetahui kerangaka berfikir filsafat beliau berikut penulis paparkan sekilas tentang konsep-konsep beliau.

1.    Konsep Manusia.

Dalam persoalan manusia Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa manusia itu mempunyai macam-macam daya yang secara umum ada tiga yaitu pertama, daya bernafsu (an-Nafsu al-Bahimiyah) kedua, Daya berani (an-nafsu as-sabu’iyayat) sebagai daya pertengahan dan yang ketiga adalah daya berfikir (an-nafsu an-nathiqhoh) Dari pembagian itu, selanjutnya ibnu Miskawaih menjelaskan bahwa an- Nafsu al-Bahimiyah dan an-nafsu as-sabu’iyayat berasal dari unsur materi sedangkan nafsu an-nathiqoh berasal dari ruh Tuhan.

Selain itu Ibnu Miskawaih juga menjelaskan bahwa hubungan antara an- Nafsu al-Bahimiyah dan an-nafsu as-sabu’iyayat dengan jasad adalah saling mempengaruhi. Kuat atau lemahnya, sehat atau sakit sehingga dalam melaksanakan fungsinya tidak akan sempurna bila tidak ada bendawi. Secara global dapat disimpulkan bahwa ibnu miskawaih memandang bahwa manusia terdapat dua unsur yaitu jasad dan ruhani yang dimana antara satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi.

2.    Konsep Etika/Akhlak

Konsep ini pelu diketahui lebih dahulu sebelum konsep pendidikannya, karena dari konsep ahlak inilah salah satu yang mendasari konsep pendidikan ibnu Miskawaih. Adapun konsep etikanya Ibnu Miskawaih lebih dikenal dengan konsep jalan tengah (al-wasath) yaitu bahwa posisi yang terbaik adalah pada posisi tengah antara dua yang ekstrem seperti contoh bahwa manusia mempunyai nafsu al-bahimiyyah, maka posisi yang tengah-tengah adalah Iffah yaitu menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah. Selanjutnya posisi tengah dari jiwa al-ghadabiyah yaitu as-sajaah atau perwira, yaitu keberanian yang diperhitungakan dengan masak-masak untung ruginya. Sedangakan posisi tengah dari jiwa an-nathiqoh adalah al-hikmah yaitu kebijaksanaan.

Konsep jalan tengah ini sebenarnya kalau di fahami secara komperehensif merupakan konsep yang dinamis, hal itu Karena relatifitas yang dimunculkan dalam konsep itu tidak sama antara satu orang dengan yang lain. Sebagai contoh jalan tengahnya seorang siswa tidak sama dengan jalan tengahnya seorang guru. Begitu juga jalan tengahnya seorang buruh tidak akan sama dengan jalan tengahnya seorang juragan. Begitu seterusnya. Dengan demikian dapatlah kita fahami bahwa konsep jalan tengah tersebut mempunyai dampak dinamis dan fleksibel. Dinamisasi dan fleksibilitas inilah yang membuat konsep ini akan terus berlaku sepanjang zaman.

 

C.   Pemikiran Pendidikan  Islam Ibnu Miskawaih

Ibnu Miskawaih adalah seorang filosof muslim terkenal dengan teorinya tentang Filsafat al-Nafs dan Filsafat al-Akhlak. Pemikiran Pendidikan Ibnu Miskawaih terdiri dan tidak  dapat dipisahkan dari konsep tentang manusia dan akhlak.

Menurut Ibnu Miskawaih, pendidikan memiliki tujuan mewujudkan pribadi susila dan budi pekerti mulia. Tujuan pendidikan akan tercapai apabila pendidik terlebih dahulu mengetahui watak manusia, sehingga dapat mengatur strategi bagaimana cara mengatur manusia dari watak yang berbeda-beda.

Dari karya-karya Ibnu Miskawaih tidak ditemukan buku dengan tema langsung “pendidikan”. Tapi, ada beberapa buku yang berkaian dengan pendidikan dan kejiwaan, akal serta etika. Salah satu buku tersebu tadalah Tahdzib al-Akhlak wa Tathtir al-A’raq.

Menurut Ibnu Miskawaih dasar pendidikan adalah :

·         Syariat :Ibnu Miskawiah menyatakan bahwa syariat adalah faktor penentu bagi karakter manusia yang menjadikan manusia terbiasa melakukan hal-hal terpuji sehingga dapat memperoleh kebahagiaan.

·         Psikologi: Menurut Ibnu Miskawaih, pendidikan dengan pengetahuan tentang jiwa memiliki hubungan yang erat. Untuk menjadi karakter yang baik, maka harus melalui shina’ah (perekayasaan) yang didasari pendidikan dan pengarahan yang sistematis. Dan itu semua akan tercapai jika mengetahui tentang jiwa dahulu.

Ibnu Miskawaih lebih memusatkan perhatiannya pada filsafat akhlak. Oleh karena itu, pemikiran pendidikannya berisi tentang moral. Ibnu Miskawaih mengatakan tujuan pendidikan akhlak adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong manusia untuk melakukan kebaikan secara spontan sehingga mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan. Karena halini, Ahmad Abd Hamid as-Syai’r menggolongkan Ibnu Miskawaih kedalam filosof yang bermadzhab as-sa’adat di bidang akhlak.

Ibnu Miskawaih menyatakan, untuk mewujudkan tujuan tersebut, manusia perlu mendapatkan materi didikan sebagai jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Materi-materi tersebut yang dimaksud, adalah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

Untuk lebih jelasnya pembahasan ini berikut dipaparkan tentang beberapa konsep pendidikan Ibnu Miskawih sebagai berikut :

1.    Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan yang diinginkan oleh Ibnu Miskawaih adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik. Sehingga tercapai kesempurnaan dan kebahagiaan sejati (As-saadah). Konsep ini yang kemudian sebagian filosof lain menggolongkan Ibnu Miskawaih sebagai filosof yang bermazhab assaadah. Assa’adah merupakan masalah yang utama dan mendasar bagi manusia karena konsep ini mengandung unsur-unsur yang menyeluruh meliputi kebahagiaan, kemakmuran, keberhasilan, succes, kesempurnaan, kesenangan dan kecantikan (keindahan). Karena itu tujuan pendidikan yang diharapkan oleh Ibnu Miskawaih adalah bersifat menyeluruh. Yaitu kebahagian hidup manusia dalam arti yang seluas-luasnya.

2.    Materi Pendidikan

Untuk mencapai tujuan pendidikan diatas menurut Ibnu Miskawaih perlu kiranya dirumuskan beberapa hal yang perlu dipelajari, diajarkan dan dipraktekkan. Sesuai dengan konsep manusia yang dijelaskan oleh Ibnu Miskawaih diatas, menurut beliau bahwa sisi kemanusian yang tiga diatas harus sama-sama mendapat didikan agar dapat mengabdi kepada Allah SWT. Sejalan dengan uraian diatas Ibnu Miskawaih bahwa ada hal pokok sebagai materi pendidikan yaitu pertama, hal-hal yang wajib kebutuhan manusia. Kedua, hal-hal yang berhungan dengan jiwa manusia dan ketiga hal- hal yang behubungan dengan sesama manusia.

Ketiga hal tersebut menurut Ibnu Miskawaih dapat diperoleh dari ilmu-ilmu yang secara garis besar dapat dikelompokkan mejadi dua. Pertama, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemikiran atau disebut al-Ulum al Fikriyah dan kedua ilmu-ilmu yang berhubungan dengan indera yang disebut al-ulum al- hissiyah. Dalam hal ini Ibnu Miskawaih tidak membeda-bedakan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu non agama. Ibnu Miskawaih juga tidak menjelaskan secara rinci materi pendidikan yang wajib bagi kebutuhan manusia, hal itu dikandung maksud bahwa walaupun tidak di jelaskan menyeluruh sebenarnya orang sudah bisa memahami kelanjutannnya.

Namun demikian yang perlu dicatat bahwa karena tujuan yang ingin dicapai adalah menuju kejalan Allah, maka apapun bentuk materi yang diajarkan akan senantiasa membantu manusia untuk menuju ke arah taqorrub kepada Tuhannya. Dari uraian itu terkesan Ibnu Miskawaih menggunakan standar filasafat sebagai barometernya terbukti dia menjelaskan diantara ilmu-ilmu yang menjadi dasar bagi orang mejadi filosof dan memahami dirinya yaitu dengan belajar matematika, logika dan ilmu kealaman. Lebih jauh Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa hendaknya materi pendidikan itu tidak hanya baik bagi siswa dan guru semata, tetapi lebih jauh yaitu fid-dunyahasanah wa filakhiratihasanah.

3.    Pendidik dan Anak didik

Ibnumiskawaih menjelaskan bahwa yang disebut guru /ustadz adalah yang memegang peranan penting dalam pendidikan. Sedangkan murid adalah sasaran kegiatan pengajaran. Kedua peserta pembelajaran ini ( baca; guru dan murid ) mendapatkan peranan yang tersendiri menurut Ibnu Miskawaih.

Hal itu terbukti bahwa guru di tempatkan oleh Ibnu Miskawaih diatas orang tua kandung dan dibawah Allah SWT. Namun demikian Ibnu miskawaih tidak menempatkan guru itu secara keseluruhan tetapi guru yang benar-benar mampu menghantarkan muridnya kepada Allah SWT. Menurutnya guru itu mempunyai syarat sebagai berikut (1) Bisa Dipercaya. (2) Pandai. (3) dicintai. Dengan demikian menurut Ibnu miskawaih harus jelas riwayat hidupnya dan tidak tercemar sebelumnya.

4.    Lingkungan Pendidikan

Lingkungan merupakan faktor yang terpenting dalam proses pendidikan, karena secara fitroh manusia diciptakan untuk berhungan dengan yang lainnya dalam masalah ini Ibnu Miskawaih tidak terlalu memperinci., beliau hanya menjelaskan secara global yang meliputi tiga hal yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan Masyarakat. Ibnu Miskawaih berpendapat dari ketiga lingkungan tersebut hendaknya diupayakan sekondusif benar agar tercipta lingkungan yang baik. Terkait dengan tanggung jawab lingkungan pendidikan ini Ibnu Miskawih berpendapat bahwa pemimpin harus mengupayakan adanya lingkungan yang ada. Dan itu menjadi tanggung jawab pemerintah.

5.    Metode

Metode diartikan sebagi cara-cara dalam melakukan pendidikan. Oleh karena pendidikan menurut Ibnu Miskawaih berorientasi pada Ahlak maka cara yang digunakan juga dalam rangka menjadikan akhlak manusia menjadi mulya. Ibnu Miskawih berpendapat bahwa akhlak bukan faktor keturunan melainkan bisa diupayakan. Sebab jika kalau akhlak adalah faktor bawaan ( keturunan maka tidak perlu adanya pendidikan). Metode perbaikan akhlak ini dapat dimaksudkan sebagai metode mencapai akhlak yang baik dan metode memperbaiki akhlak yang buruk.

Adapun metode yang digunakan meliputi pertama, kemauan yang sungguh-sungguh untuk berlatih terus-menerus dan menahan diri ( al’adat wa al-jihad) untuk memperoleh kesopanan yang sebenarnya sesuai dengan keutamaan jiwa. Kedua, dengan menjadikan semua ilmu yang dimilikinya sebagai cerminan bagi dirinya. Dengan demikian manusia bisa sadar dirinya dan tidak larut dalam perbuatan yang tidak-tidak. Manusia hendkanya mengukur segala-sesuatu dari dirinya lebih dahulu sebelum menilai orang lain sehingga bisa mengontrol diri dan tidak sombong.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB X

KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MENURUT AHMAD DAHLAN

 

A.   Biografi Singkat KH. Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1868 miladiyah dengan nama Muhammad Darwis, anak dari seorang kyai haji Abu Bakar bin kyai Sulaiman. Khatib di masjid sulthan kotaitu. Ibunya adalah Siti Aminah binti kyai haji Ibrahim,penghulu besar di Yogyakarta.60dalam sumber lain Muhammad Darwis dilahirkan pada tahun 1869.

Muhammad Darwis adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara. adapun saudara Muhammad Darwis menurut urutannya adalah . 1). Nyai Chatib Arum 2) Nyai Muhsinah 3) Nyai H. Sholeh 4) M. Darwis (K.H Ahmad Dahlan) 5) Nyai Abdurrahman 6) Nyai H. Muhammad Fekih (ibunya H. Ahmad badawi) dan 7) Muhammad Basir . Dalam silsilahnya, ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam ditanah Jawa, demikian dijelaskan oleh Hasan Basri dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam.Semenjak kecil, Dahlan di asuh dan dididik sebagai putera kiyai.

Pendidikan dasarnya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji Al-Qur’an, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dari ayahnya. Menjelang dewasa, ia mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu. Dianataranya K.H. Muhammad Saleh (ilmu fiqih), K.H. Muhsin (ilmu nahwu), K.H.R. Dahlan (ilmu falak), K.H. Mahfudz dan Syekh Khayyat Sattokh (ilmu hadis), syekh Amin dan Sayyid Bakri (qira’at Al-Qur’an).

KH. Ahmad Dahlan kemudian aktif menyebarkan gagasan pembaharuan islam ke pelosok-pelosok tanah air sambil berdagang batik. KH. Ahmad Dahlan melakukan tabliah dan diskusi keagamaan sehingga atas desakan para muridnya pada tanggal 18 November 1912 KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah. Disamping aktif di Muhammadiyah beliau juga aktif di partai politik. Seperti Budi Utomo danSarikat Islam. Hampir seluruh hidupnya digunakan utnuk beramal demi kemajuan umat islam dan bangsa. KH. Ahmad Dalhlan meninggal pada tanggal 7 Rajab 1340 H atau 23 Pebruari 1923 M dan dimakamkan di Karang Kadjen, Kemantren, Mergangsan, Yogyakarta.

 

B.   Pandangan Ahmad Dahlan dalam Pendidikan

Pandangan Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan dapat dilihat pada kegiatan pendidikan yang dilaksanakan oleh Muhammadiyah. Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah melanjutkan model sekolah yang digabungkan dengan sistem pendidikan gubernemen.

Ide-ide pendidikan yang dikemukakan Ahmad Dahlan :

1.  Membawa pembaharuan dalam bidang pembentukan lembaga pendidikan Islam.

2.  Memasukkan pelajaran umum kepada seolah agama atau madrasah.

3.  Mengadakan perubahan dalam metode pengajaran.

4.  Mengajarkan sikap hidup yang terbuka dan toleran.

5.  Dengan organisasinya Muhammadiyah termasuk organisasi Islam yang paling pesat dalam mengembangkan lembaga pendidikan yang bervariasi.

 

C.   Pemikiran Pendidikan Islam Menurut K.H. Ahmad Dahlan

Menurut KH. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat, hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syamsul Nizar, dalam bukunya Filsafat PendidikanIslam.Mereka hendaknya dididik agar cerdas, kritis dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memeta dinamika kehidupannya pada masa depan. Adapun kunci untuk meningkatkan kemajuan umat Islam adalah dengan kembali pada Al-Qur’an dan Hadist, mengarahkan umat pada pemahaman ajaran Islam secara komprehensif, dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Kyai dalam pencerahan akal, yaitu:

1.    pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci.

2.    akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia.

3.    ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt.

Adapun upaya untuk mengaktualisasikan gagasan tersebut maka konsep pendidikan Islam menurut KH. Ahmad Dahlan ini meliputi :

1.    Tujuan pendidikan; Menurut Ahmad Dahlan Pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, yaitu alim dalam agama, luas pandangan, yaitu alim dalam ilmu-ilmu umum dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat, hal ini berarti bahwa pendidikan Islam merupakan upaya pembinaan pribadi muslim sejati yang bertaqwa baik sebagai hamba Allah maupun khalifah dimuka bumi. Untuk mencapai tujuan ini proses pendidikan Islam hendaknya mengakomodasi berbagai ilmu pengetahuan baik umum maupun agama, untuk mempertajam daya intelektualitas dan memperkokoh spiritualitas peserta didik.Menurut Ahmad Dahlan upaya ini akan terealisasikan manakala proses pendidikan bersifat integral yang mampu menghasilkan manusia yang lebih berkualitas.Untuk menciptakan peserta didik yang demikian, maka sumber ilmu pengetahuan Islam hendaknya dijadikan landasan metodologis dalam kurikulum dan bentuk pendidikan yang dilaksanakan.

2.    Materi pendidikan; Menurut Toto Suharto, Ahmad Dahlan memadukan antara pendidikan Agama dan pendidikan umum sedemikian rupa, dengan tetap berpegang kepada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain kitab-kitab klasik berbahasa Arab, kitab-kitab kontemporer berbahasa Arab juga dipelajari dilembaga Muhammadyah yang dipadukan dengan pendidikan umum.

3.    Metode pembelajaran; Ada dua sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia, yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan Barat. Pandangan Ahmad Dahlan, ada problem mendasar berkaitan dengan lembaga pendidikan di kalangan umat Islam, khususnya lembaga pendidikan pesantren. Menurut Syamsul Nizar, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, menerangkan bahwaproblem tersebut berkaitan dengan proses belajar-mengajar, kurikulum, dan materi pendidikan.

Berangkat dari tujuan pendidikan tersebut KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:

a.    Pendidikan moral, akhlaq yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

b.    Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu yang utuh yang berkesinambungan antara perkembangan mental dan gagasan, antara keyakinan dan intelek serta antara dunia dengan akhirat.

c.    Pendidikan kemasyarakatan yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat. menanamkan kepekaan sosial kepada peserta peserta didik terhadap persoalan-persoalan sosial yang menimpa sesama manusia tanpa membedakan suku, ras dan agama.

4.    Pembaharuan Teknik Penyelenggaraan Pendidikan

Usaha Ahmad Dahlan untuk memperbaiki teknik perencanann pendidikan dengan jalan modernisasi dalam sistem pendidikan yaitu menukar sistem pondok dan pesantren dengan sistem pendidikan modern sesuai dengan tuntutan zaman. Usaha tersebut diwujudkan dalam membaga pendidikan yang bersifat spesifik yaitu mengadopsi sistem persekolahan Barat, terapi dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berjiwa Nusantara yang mempunyai misi Islami.

Ada dua model persekolahan, yaitu

a. Model persekolahan umum.

Sekolah pertama yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan 1911 di Kauman, Yogyakarta. Sekolah ini merupakan sekolah tingkat dasar yang berawal dari sebuah pengajian. Sekolah ini mempunyai murid laki-laki dan perempuan sekaligus, yang diajar denagn menggunakan papan tulis dan kapur, bangku-bangku, serta alat peraga. Penyelenggaraan pendidikan seperti ini adalah yang pertama kali menggabungkan antara sistem pengajaran pesantren dengan barat.

b. Madrasah.

Selain mendirikan sekolah Ahmad Dahlan juga mendirikan madrasah yang mengikuti model gubernamen bersifat agamis yang disebut sebagai madrasah. Perbedaan dengan sekolah terletak pada kurikulumnya, yaitu 60 % agama dan selebihnya nonagama. Sementara di Muhammadiyah, dilakukan pembaruan Teknik interaksi belajar. Teknik interaksi belajar yang di pakai adalah model pembaruan yang memadukan sistem pendidikan Barat dengan model pesantren, yaitu pelajaran yang diberikan kepada murid laki-laki dan perempuan bersamaan. Masyarakat menganggap asing terhadap model belajar seper ini dan bahkan tidak jarang mereka menyebutnya sekolah kafir.

 

5.    Ciri-ciri Dunia Modern

Ada beberapa pandangan mengenai corak kehidupan di masa modern sekarang ini. Pertama, menurut Daniel Bell, kehidupan di masa sekarang dan mendatang akan ditandai oleh dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan untuk berintegrasi dalam kehidupan ekonomi, dan kecenderungan untuk berpecah belah dalam kehidupan politik. Dua kecenderungan ini sudah menjadi kenyataan di berbagai kawasan dunia ini.

Corak kedua, ialah bahwa globalisasi akan mewarnai seluruh kehidupan di masa mendatang. Salah satu arti “globalisasi” ialah bahwa masalah-masalah tertentu seperti masalah pertumbuhan penduduk, masalah lingkungan, masalah kelaparan, masalah narkotika, masalah HAM untuk menyebut beberapa contoh yang dipandang sebagai persoalan-persoalan yang bersifat global dan menyangkut nasib seluruh umat manusia. Di dalam zaman globalisasi ini, tidak ada satu negara pun yang dapat bersembunyi dari sorotan dunia dan menutup diri terhadap kekuatan-kekuatan global yang terdapat di seluruh dunia.

Corak ketiga yang banyak pula dikemukakan orang ialah bahwa kemajuan sains dan teknologi yang terus melaju dengan cepatnya ini akan merubah secara radikal situasi dalam pasar tenaga kerja. Kemajuan teknologi menyebabkan pekerjaan-pekerjaan tertentu tidak diperlukan lagi, dan timbullah pekerjaan-pekerjaan baru yang menuntut kecakapan baru. Muncullah tuntutan untuk mampu menyesuaikan diri dengan teknologi baru. Akibat dari situasi semacam inilah maka “pendidikan ulang” (reeducation) atau “pelatihan ulang” (retraining) menjadi suatu keharusan untuk mempertahankan produktifitas dan untuk mengurangi pengangguran.

Kecenderungan keempat yang banyak disebut-sebut oleh para ahli ialah bahwa proses industrialisasi dalam ekonomi dunia menuju pada penggunaan teknologi tingkat tinggi. Alat-alat produksi dengan teknologi rendah akan “dieksport” dari negara-negara maju ke negara-negara yang ekonominya masih terbelakang. Negara-negara maju akan memusatkan kegiatan ekonomi mereka pada usaha-usaha yang menghasilkan nilai tambah yang cukup tinggi.

 

6.    Relevansi Pemikiran Pendidikan K.H Ahmad Dahlan di Era Modern

Keterkaitan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan  dalam pendidikan Islam di Era Modern ini adalah aspek tujuan pendidikan Islam dan kurikulum pendidikan Islam, karena pemikiran KH. Ahmad Dahlan hendak menyinergikan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Apalagi di era Modern ini, arah pendidikan Islam itu sendiri tidak hanya menjadikan manusia memiliki kemampuan secara kognitif, afektif, dan psikomotorik tetapi dalam diri seseorang harus tertanam sikap dan pribadi yang berakhlak karimah. Dan pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang konsep pendidikan Islam sarat dengan ide-ide yang berkenaan dengan upaya menanamkan nilai-nilai kepribadian, etika, dan moral dalam diri anak didik. Walaupun pemikiran KH.Ahmad Dahlan telah ada sejak masa penjajahan, namun tak mengurangi para generasinya untuk mengembangkan dan melanjutkan semangat pembaharuan KH. Ahmad Dahlan. melalui perkumpulan Muhammadiyah yang didirikannya, dan hingga  makin menunjukkan eksistensi secara fungsional dan nasional.

Keterkaitan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan  dalam pendidikan Islam di Era Modern ini juga dapat dilihat dari cita-cita pendidikan yang digagas oleh K.H. Ahmad Dahlan, yakni lahirmya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama intelek” atau "intelek-ulama”, yaitu seorang Muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan ruhani. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, pada saat itu K.H. Ahmad Dahlan melakukan dua tindakan, yaitu memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan tersebut di era modern saat ini sudah menjadi fenomena umum,  yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam. Namun, ide K.H. Ahmad Dahlan tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan Muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang mesti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesuai dengan perkembangan imu pendidikan atau atau psikologi perkembangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB XI

KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN

MENURUT KH. HASYIM ASY’ARI

 

A.   Biografi K.H. Hasyim Asyari.

K.H. Hasyim Asy’ari lahir di Gedang, Jombang Jawa Timur, hari Selasa 24 Zulqo’dah 1287 H, bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Asy’ari ulama asal Demak, yang merupakan keturunan ke-8 dari Jaka Tingkir yang menjadi Sultan Pajang di tahun 1568, dan Jaka Tingkir ini merupakan anak Brawijaya IV yang menjadi raja Majapahit. Sedangkan ibunya bernama Halimah, puteri kiai Usman, pendiri dan pengasuh pesantren Gedang Jawa Timur, tempat ia dilahirkan. Sebagaimana santri pada umumnya, K.H. Hasyim Asy’ari senang belajar di pesantren sejak masih belia. Sebelum umur delapan tahun Kiai Usman sangat memperhatikannya. Kemudian pada tahun 1876 ia meninggalkan kakeknya tercinta dan memulai pelajarannya yang baru di pesantren orang tuanya sendiri di Desa Keras, tepatnya di bagian selatan Jombang.

Menginjak usia 15 tahun, K.H. Hasyim Asy’ari berkelana ke beberapa pesantren yakni ke pesantren Wonokoyo Probolinggo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Trenggilin Madura, Pesantren Demangan  Bangkalan  Madura.  Beliau  belum  puas  dengan berbagai ilmu yang didapat, akhirnya pindah ke Pesantren Siwalan, Surabaya. Di pesantren ini ia menetap selama dua tahun, dan karena kecerdasannya ia diambil menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren tersebut. Kemudian ia dikirim oleh mertuanya ke Mekkah untuk menuntut ilmu di sana. Ia kemudian bermukim di sana selama tujuh tahun dan tidak pernah pulang, kecuali pada tahun pertama saat puteranya yang baru lahir meninggal yang kemudian disusul isterinya. Di tanah suci ini K.H. Hasyim Asy’ari mencurahkan pikirannya untuk belajar berbagai disiplin ilmu, sehingga pada tahun 1899, ia telah mampu mengajar. Selama di Mekkah, K.H. Hasyim Asy’ari belajar di bawah bimbingan ulama terkenal, seperti syekh Amin Al-Athor, Sayyid Sultan Ibnu K.H. Hasyim, Sayyid Ahmad Zawawi, Syekh Mahfuzd al- Tirmasi dan Syekh Ahmad Khotib Minangkabau. Di Mekkah ini pula K.H. Hasyim Asy’ari bersentuhan dengan faham Wahabi yang sedang gencar-gencarnya. Dan ia tertarik dengan ide pembaharuan ini. Namun ia tidak setuju dengan pemikiran Wahabi yang “kebablasan” dalam beberapa pembaharuanya. Gerakan pembaharuan Islam ini gencar dilakukan oleh Muhammad Abduh.

Inti gagasan Muhammad Abduh adalah mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni yang lepas dari pengaruh dan praktek-praktek luar, reformasi pendidikan Islam di tingkat universitas, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam dan mempertahankan Islam. Rumusan-rumusan Muhammad Abduh ini dimaksudkan agar umat Islam dapat memainkankan kembali peranannya dalam bidang sosial, politik dan pendidikan pada era modern. Untuk itu pula, Abduh melancarkan gagasannya agar umat Islam melepaskan diri dari keterikatan pola pikir para pendiri mazhab dan meninggalkan segala praktek-praktek thoriqoh. Dan ide ini disambut secara antusias oleh para pelajar Indonesia yang berada di Mekkah.

Setelah kepulangannya ke tanah air, ia kemudian terikat aktif dalam pengajaran di pesantren kakeknya sebelum akhirnya mendirikan pesantren di Tebuireng. Di pesantren inilah K.H. Hasyim Asy’ari mencurahkan pikirannya sehingga karena kealimannya terutama dibidang hadist, pesantren ini berkembang begitu cepat dan terkenal dengan pesantren hadist. K.H. Hasyim dalam mengelola Tebuireng membawa perubahan baru. Beberapa perubahan dan pembaharuan yang dilakukan pada masa kepemimpinan K.H. Hasyim Asy’ari antara lain mengenal sistem madrasah. Sebelumnya sejak tahun 1899 M, Tebuireng menggunakan sistem pengajian sorogan dan bandongan. Akan tetapi sejak tahun 1916 M, mulai dikenalkan sistem madrasah, dan tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 1919 M, mulai dimasukkan mata pelajaran umum, di mana langkah ini merupakan hasil dari rumusan Ma’shum menantu K.H. Hasyim Asy’ari.

K.H. Hasyim Asy’ari meninggal dunia pada 7 Ramadan 1366/25 juli 1947 karena tekanan darah tinggi yang diakibatkan berita datangnya kembali Belanda untuk menyerang malang dari jendral Soedirman dan Bung Tomo.

 

B.   Perjuangan K.H. Hasyim Asyari

Pada awal karir, K.H. Hasyim Asy’ari bukanlah seorang aktivis politik juga bukan musuh utama penjajahan Belanda. Beliau ketika itu belum peduli betul untuk menyebarkan ide-ide politik dan umumnya tidak keberatan dengan kebijakan Belanda selama tidak membahayakan keberlangsungan ajaran Islam. Dalam kaitan ini, beliau tidaklah seperti H.O.S. Cokroaminoto dan Haji Agus Salim, pemimpin utama syarikat Islam, atau Ir. Soekarno, pendiri Partai Nasional Indonesia dan kemudian menjadi presiden pertama Indonesia, yang memfokuskan diri pada isu-isu politik dan bergerak terbuka selama beberapa tahun untuk kemerdekaan Indonesia. Meskipun demikian, K.H. Hasyim Asy’ari dapat dianggap sebagai pemimpin spiritual bagi sejumlah tokoh pilitik, dan sebagai tokoh pendiri Nahdlatul Ulama’.

Masyarakat kolonial adalah masyarakat yang serba eksploratif dan diskriminatif yang dilakukan penjajah melalui dominasi politik. Faktor pendukungnya adalah Kritenisasi dan Westernisasi serta pembiaran terhadap adat tradisional yang menguntungkan penjajah. Sistem kolonial ini dipentaskan selama tiga setengah abad di Indonesia oleh bangsa Barat. Perjuangan melawan kolonialisme telah dilakukan oleh bangsa Indonesia sejak datangnya penjajah, demi kebebasan agama dan bangsanya. Pesantren dan ulama mempunyai peran besar dalam masalah ini, bahkan pesantren adalah pelopor perjuangan.

Sebagai seorang ulama’ yang anti penjajah, K.H. Hasyim Asy’ari senantiasa menanamkan rasa nasionalisme dan semangat perjuangan melawan penjajah. Juga menanamkan harga diri sebagai umat Islam yang sederajat, bahkan lebih tinggi dari pada kaum pejajah. Ia sering mengeluarkan fatwa-fatwa yang nonkooperatif terhadap kolonial, seperti pengharaman transfusi darah dari umat Islam terhadap Belanda yang berperang melawan Jepang. Ketika pada revolusi Belanda memberikan ongkos murah bagi umat Islam untuk melakukan ibadah haji, K.H. Hasyim Asy’ari justru mengeluarkan fatwa tentang keharaman pergi haji dengan kapal Belanda. Akibatnya Belanda tidak bisa mendapat tambahan dana untuk membiayai perang dan bangsa Indonesia terutama umat Islam lebih bisa berkonsentrasi menghadapi penjajah.

Sangat jelas sekali bahwa K.H. Hasyim Asy’ari sama sekali tidak mau bekerja sama dengan penjajah dan perlawanan- perlawanannya, karena beliau sudah paham dan mengerti bahwa kolonial Belanda mempunyai tujuan tersendiri untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang sekuler. Masa depan jajahan Belanda sangatlah tergantung kepada penyatuan wilayah tersebut dengan kebudayaan Belanda. Ini berarti Belanda mempunyai  keinginan untuk memberikan pendidikan Barat kepada kaum ningrat dan priyayi di Jawa secara umum. Agar penyatuan kebudayaan ini menjadi kenyataan, sistem pendidikan Barat harus pula diperluas agar sampai pada masyarakat kecil pribumi. Jadi dasar pemikirannya adalah bahwa sistem pendidikan Barat merupakan sarana yang paling baik untuk mengurangi dan akhirnya mengalahkan Islam di wilayah jajahan Belanda, karena dalam pertandingan antara Islam melawan daya tarik pendidikan Barat dan penyatuan kebudayaan, Islam pasti kalah.

Dengan memperkenalkan sistem pendidikan Barat, para lulusan sekolah tersebut merupakan contoh ideal bagi golongan terdidik Indonesia, yang semakin menggeser kedudukan kiai sebagai kelompok intelegensia dan pemimpin masyarakat. Akibatnya, anak-anak muda yang cerdas dan penuh ambisi semakin tertarik kepada pendidikan Barat, sebab mereka akan menikmati kesempatan memperoleh pekerjaan pada sektor birokrasi modern.

Dalam fase ini, peranan K.H. Hasyim Asy’ari dan kelompoknya ternyata cukup tangguh. Sementara sekolah-sekolah Belanda meluluskan pemimpin-pemimpin pergerakan modern untuk kemerdekaan Indonesia, ia dengan caranya sendiri mampu mengeluarkan kiai-kiai yang kuat kepemimpinannya, yang relatif tanggap terhadap perkembangan baru serta mampu bekerjasama dengan pemimpin-pemimpin pergerakan nasional tersebut. Hal ini tergambar pada sepak terjang Nahdlatul Ulama’ organisasi yang dipimpinnya.

Dalam menghadapi tantangan baru ini, kedudukan K.H. Hasyim Asy’ari dinilai oleh umat Islam modern sangat penting karena pengaruhnya yang demikian kuat dalam lingkungan kaum Islam tradisional turut menjamin kelangsungan peranan dalam pergerakan kebangsaan secara menyeluruh. Menurut zuhairi misrawi, pada tanggal 29 Maret 1946, bertepatan dengan Muktamar XVI NU di purwokerto, para ulama NU kembali mengobarkan api jihad terhadap penjajah. Pada resolusi kali ini, ditegaskan agar setiap muslim yang berada pada jarak lingkaran 94 kilometer dari posisi musuh wajib melakukan jihad.

 

C.   Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy’ari yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, serta banyak menuntut ilmu dan berkecimpung secara langsung di dalamnya, di lingkungan pendidikan agama Islam khususnya. Dan semua yang dialami dan dirasakan beliau selama itu menjadi pengalaman dan mempengaruhi pola pikir dan pandangannya dalam masalah-masalah pendidikan.

KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang penulis yang produktif dalam semua bidang keilmuan islam, namun dari sudut epistemoliginya ada kesimpulan dari pemikirannya yaitu dia memiliki pemikiran yang khas dan tipikal, ia selalu konsisten mengacu pada rujukan yang memliki sumber otoritatif, yakni Al-Qur’an dan Hadith, disamping itu yang menjadi tipikal karya karyanya adalah kecenderungannya terhadap madzhaab Syafi’i. Di antara pemikiran beliau dalam masalah pendidikan adalah:

1.    Signifikasi Pendidikan

Beliau menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu pengetahan adalah mengamalkan. Hal itu dimaksudkan agar ilmu yang dimiliki menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu : pertama, bagi murid hendaknya berniat suci dalam menuntut ilmu, jangan sekali-kali berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkannya. Kedua, bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata.

Belajar menurut KH. Hasyim Asy’ari merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah, yang mengantarkan manusia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, Karenanya belajar harus diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan hanya untuk sekedar menghilangkan kebodohan.[1]

 

2.    Etika Seorang Guru Terhadap Siswa

Diantara etika pendidik terhadap peserta didik adalah sebagai berikut;

a.    berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at Islam;

b.    guru hendaknya memiliki keihlasan dalam mengajar;

c.    mencintai peserta didik sebagaimana mencinta dirinya sendiri;

d.    memberi kemudahan dalam mengajar dan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami;

e.    membangkitkan semangat peseta didik dengan jalan memotivasinya;

f.     memberkan latihan-latihan yang bersifat membantu;

g.    selalu memperhatikan kemampuan anak didik;

h.    tidak menampakkan kelebihan sebagian peserta didik terhadap peserta didik yang lain;

i.      mengerahkan minat anak didik;

j.      bersikap terbuka dan lapang dada kepada peserta didik;

k.     membantu memecahkan kesulitan anak didik;

l.      bila ada anak didik yang berhalangan hadar hendaknya menanyakan hal itu kepada teman-temannya;

m.  Tunjukkan sikap arif dan tawadhu’ketika memberi bimbingan kepada peserta didik;

n.    menghormati peserta didik dengan memanggil namanya yang baik.

 

3. Etika Siswa Terhadap Guru

Menurut KH. Hasyim Asy’ari paling tidak ada 12 etika yang perlu dilakukan, yakni:

a.    melakukan perenungan dan meminta petunjuk kepada Allah swt dalam memilih guru;

b.    belajar sungguh-sungguh dengan menemui pendidik secara langsung, tidak hanya melalui tulisan-tulisannya semata;

c.    mengikuti guru, terutama dalam kecerundungan pemikiran;

d.    memuliakan guru;

e.    memperhatikan hal-hal yang menjadi hak pendidik;

f.     bersabar terhadap kekerasan pendidik;

g.    berkunjung kepada guru pada tempatnya atau meminta izin terlebih dahulu;

h.    menempati posisi duduk dengan rapih dan sopan bila berhadapan dengannya; (i) berbicara dengan halus dan lemah lembut; (j) menghafal dan memperhatikan fatwa hukum, nasihat, kisah, dari para guru; (k) jangan sekali-kali menyela ketika guru belum selesai menjelaskan; (l) menggunakan anggota badan yang kanan bila menyerahkan sesuatu kepada pendidik.

 

4. Etika Guru Bersama Murid

Guru dan murid pada dasarnya memiliki tanggung jawab yang berbeda, namun terkadang seorang guru dan murid mempunyai tanggung jawab yang sama, diantara etika tersebut adalah : 

a.    berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at islam;

b.    menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniawian;

c.    hendaknya selalu melakukan instropeksi diri;

d.    menggunakan metode yang sudah dipahami murid;

e.    membangkitkan semangat murid dengan memotivasinya;

f.     memberikan latihan – latihan yang bersifat membantu;

g.    selalu memperhatikan kemapuan peserta didik yang lain;

h.    bersikap terbuka dan lapang dada;

i.      membantu memecahkan masalah dan kesulitan peserta didik;

j.      tunjukkan sikap yang arif dan tawadhu’ kepada peserta didik yang satu dengan yang lain

 

BAB XII

KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

MENURUT NAQUIB AL-ATTAS

 

A.   Biografi Muhammad Naquib Al-Attas

Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas lahir di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Jika dilihat dari silisahnya Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, ayahnya yang bernama Syed Ali Bin Abdullah Al-Attas berasal dari Saudi Arabia yakni dari keturunan ulama dan ahli bidang tasawuf. Dari garis ibunya, ibunya adalah Syarifah Raguan Al-Idrus berasal dari keturunan kerabat raja-raja pada kerajaan Sunda Sukapura, Jawa Barat. Sehingga dari sana dapat diketahui bahwa Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah keturunan darah biru yang memiliki semangat religius yang sangat kental dan mendalam. Dengan latar belakang keluarganya yang demikian memberikan pengaruh pada pendidikan Syed Muhmmad Naquib Al-Attas. Pendidikan agama ia peroleh dari keluarga ibunya yang berada di Bogor, sedangkan untuk pengetahuan bahasa, sastra dan kebudayaan Melayu didapatkan dari keluarga yang berada di Johor.

Pada usia 5 tahun Syed Muhammad Naquib Al-Attas diajak pindah oleh orang tuanya ke Malaysia, di Malaysia ia bersekolah di Ngee Heng English School Johor hingga usianya sampai 10 tahun (1936-1941). Pada masa penjajahan Jepang di Indonesia Al-Attas dan keluarganya kembali ke Jawa Barat. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Sukabumi yakni di Madrasah Al-Urwah Al-Wutsqa pada tahun 1941-1945, sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan Bahasa Arab sebagai Bahasa pengantarnya.

Tahun 1945 saat perang dunia II telah selesai, pada tahun berikutnya yakni 1946, Syed Muhammad Naquib Al-Attas melanjutkan pendidikannya di Johor. Ia melanjutkan pendidikannya di Bukit Zahrah School, kemudian di English College tahun 1946-1951. Pada tahun 1951 Syed Muhammad Naquib Al-Attas berhasil menyelesaikan pendidikannya, kemudian Ia mendaftarkan pada dinas tentara sebagai perwira kadet dalam askar Malaysia- Inggris. Berkat kepiawaiannya Syed Muhammad Naquib Al-Attas diikutkan dalam pendidikam militer. Pendidikan yang pertama di Eaton Hall, Chester Wales, selanjutnya Syed Muhammad Naquib Al-Attas melanjutkan di Royal Military Academy, Sandhurst Inggris (1952-1955). Setelah tamat dari Royal Military Academy, Al-Attas ditugaskan sebagai pegawai kantor di resimen tentara kerajaan Malaya, Federasi Malaya. Pada tugas ini berlangsung tidak lama. Setelah malaysia merdeka pada tahun 1957 Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas mengundurkan diri dari dinas militer dan mengembangkan potensinya dalam bidang ilmu pengetahuan. Dengan minat yang ia miliki tersebut Al-Attas melanjutkan pendidikan ke Universitas Malaya, Kuala Lumpur masuk pada fakultas Kajian Ilmu-Ilmu Sosial (Sosial Sciencs Studies). Saat studi S1-nya Syed Muhammad Naquib Al-Attas berhasil menyelesaikan dua buku. Buku pertama diselesaikan ialah “Rangkaian Ruba’iyat” dan buku keduanya adalah “Some Aspects of Sufism as Understood and Practised Among the Malaya”. Karena buku keduanya sangat berharga sehingga pemerintahan Kanada, melalui Canada Council Fellowship, memberinya beasiswa untuk belajar di Universitas McGill yakni di institut of Islamic Studies pada tahun 1960-1962. Gelar Master of Art (M.A) diperolehnya dari Universitas McGill dengan tesis yang berjudul Raniri and the Wujudiyah of 17th Century Acheh lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Setahun setelah kelulusannya Syed Muhammad Naquib Al-Attas melanjutkan pendidikannya ke Universitas London yakni di SOAS (School of Oriental and African Studies) di kampus inilah Syed Muhammad Naquib Al- Attas mendapatkan gelar Doctor of Phylosophy (Ph.D) dengan predikat Cumlaude dalam bidang Filsafat Islam dan Kesusasteraan Melayu Islam setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri.3

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Inggris pada tahun 1965, Syed Muhammad Naquib Al-Attas melanjutkan pengabdian di Universitas Malaya. Di universitas Malaya inilah Syed Muhammad Naquib Al-Attas mulai menunjukkan kehebatannya dan kecemerlangannya, ia memperoleh jabatan sebagai kepala jurusan Sastra pada Fakultas Kajian Melayu. Kemudian pada tahun 1968-1970 Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendapat jabatan di Universitas yang sama yakni sebagai Dekan Fakultas Sastra. Karir Syed Muhammad Naquib Al-Attas sangat maju pada tahun 1970 menjadi salah satu pendiri senior pada salah satu Universitas terbaik di Malaysia yakni Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Delapan tahun berselang yakni tepatnya pada tahun 1978 Syed Muhammad Naquib Al-Attas menjadi pendiri sekaligus rektor International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Malaysia.

Pada acara konferensi pendidikan islam yang diselenggarakan di Mekkah tahun 1977, Syed Muhammad Naquib Al-Attas menjadi pembicara sebagai peserta yang aktif. Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang mengemukakan bahwa persoalan yang paling penting dan mendesak pada umat islam yakni masalah ilmu pengetahuan. Gagasan tersebut ia tulis pada surat yang disampaikan Sekretariat Islam tahun 1973, di Jeddah.5

Dato Seri Anwar Ibrahim pada tahun 1993 menunjuk Syed Muhammad Naquib Al-Attas sebagai pemegang pertama Abu Hamid Al-Ghazali Chair of Islamic Thought ( Kursi Kehormatan Abu Hamid al-Ghazali dalam studi Pemikiran Islam) di ISTAC.

 

B.   Konsep Tujuan Pendidikan Islam

Al-Attas beranggapan bahwa tujuan dari pendidikan islam ialah menanamkan kebajikan dalam “diri manusia” sebagai manusia serta sebagai individu. Tujuan akhirnya adalah untuk menghasilkan manusia yang baik dari aspek kehidupan material sekaligus spiritualnya, yang menitik beratkan pada pembentukan aspek pribadi individu serta mengharapkan pembentukan masyarakat ideal. Masyarakat yang baik atau ideal ini sesungguhnya terbentuk dari kepribadian masing-masing individu yang baik, karena pada hakikatnya masyarakat merupakan kumpulan dari individu-individu.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Al-Attas menghendaki pendidikan islam untuk mampu mencetak manusia yang baik secara universal (insan kamil), yang orientasinya pada dua dimensi sekaligus yaitu, sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah dibumi.

Dengan harapan yang tinggi yakni menginginkan pendidikan dapat mencetak manusia paripurna (insan kamil) yang bercirikan universalitas dalam wawasan serta ilmu pengetahuan yang bercermin kepada ketauladanan Nabi Muhammad SAW. Untuk mencapai tujuan tersebut, menurutnya pendidikan islam harus mengacu kepada aspek afektif (moral-transendental), sekaligus aspek kognitif (sensual logis) serta psikomSesuai dengan tujuan dan konsep pendidikan islam yang dideskripsikan Al-Attas, maka sistem pendidikan islam haruslah mengandung unsur adab (etika) serta ilmu pengetahuan, sebab inti dari pendidikan ialah membentuk watak serta akhlak mulia yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus seluruh umat. Sistem pendidikan yang diformalisasikannya ialah dengan mengintegrasikan ilmu, yakni islam menghadirkan serta mengajarkan dalam proses pendidikan tidak hanya ilmu-ilmu agama, akan tetapi juga ilmu-ilmu rasional, intelek dan filosofis. Langkah integrasi ini dengan cara ilmu pengetahuan dan teknologi terlebih dahuludilandasi dengan pertimbangan nilai-nilai serta

ajaran agama. Sebab pendidikan islam masih mengalami keterjajahan oleh konsepsi pendidikan Barat. Adanya dikotomi ilmu, sehingga tidak adanya integrasi ilmu yang seharusnya diwujudkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berwawasan dan bernuansa islami.

 

C.   Relevansi Konsep Pendidikan Muhammad Naquib Al-Attas dengan Sisdiknas

Konsep pendidikan menurut Muhmmad Naquib Al-Attas merupakan suatu proses penanaman sesuatu dalam diri manusia dengan cara bertahap sehingga membimbingnya ke arah pengenalan terhadap Allah Swt Sang Maha Pencipta. Pengakuan tanpa adanya pengenalan adalah sebuah kesiasiaan. Dengan kata lain harus ada kesesuaian antar ilmu dan amal karena dari keduanya harus berjalan beriringan. Menurut Al-Attas, subjek didik harusnya mengetahui tentang dirinya sendiri. Pemahaman subjek didik akan dirinya sendiri juga akan membuat subjek didik memahami dari mana ia berasal, dimana dia berada dan akan kemana ia kelak. Sehingga dapat memahami tentang dirinya sendiri, dapat memahami lingkungan dan dengan pemahaman itulah ia dapat memahami Tuhannya. Dan konsekuensi logisnya ia akan sempurna menjadi khalifah di bumi yang tujuan akhirnya adalah menjadi manusia yang terbaik atau dalam istilah Al-Attas adalah Insan Kamil.11 Pemikiran Al-Attas tersebut sesuai dengan arah tujuan pendidikan di Indonesia yang dimuat dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Dalam hal kurikulum pendidikan, Al-Attas merumuskan bahwa pendidikan yang hendaknya pendidikan itu harus terpadu dan terintegrasi. Sehingga pendidikan sebaiknya tidak hanya mengajarkan tentang pendidikan agama namun juga mengajak ilmu-ilmu pengetahuan rasional, intelektual dan filsafat. Lebih rinci Al-Attas membagi ilmu kedalam dua jenis yakni ilmu Fardu Kifayah dan bersifat Fardu ‘ain. Ilmu Fardu ‘ain adalah ilmu yang bersumber dari Allah Swt sedangkan ilmu yang bersifat Fardu Kifayah adalah ilmu-ilmu yang didapat dari usaha manusia yang meliputi ilmu intelektual, rasional dan filsafat. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, pembagian ilmu oleh A-Attas tersebut bukan berarti mendikotomi ilmu, namun hanya menginformasikan bahwa ilmu sumbernya ada dua macam tersebut. Kemudian selain itu, menjadikan keduanya kesatuan yang dinamis untuk membebaskan manusia dan menumbuhkan potensi manusia. Kebebasan dalam akademik yang dimaksud bukan kebebasan tanpa batas, akan tetapi kebebasan akademik dimaknai sebagai dasar pencapaian dan penyebarluasan adab setinggi-tingginya sesuai kemampuan.

Sedangkan dalam sistem pendidikan yang ada di Indonesia menetapkan adanya dikotomi ilmu pengetahuan, yang terdiri dari ilmu agama, ilmu-ilmu umum yang meliputi ilmu alam, ilmu sosial, dan ilmu lainnya. Dikotomi tersebut jelas terlihat pada praktek dua model lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Model pertama ialah model sekolah-sekolah umum seperti SD, SMP, SMA/SMU. Sedangkan model yang kedua yaitu model sekolah-sekolah dengan ciri khas agama seperti MI, MTs, dan MA.

Tentu dari keduanya terlihat proporsi ilmu agama yang diajarkan lebih banyak pada sekolah agama dibandingkan sekolah-sekolah umum. Sehingga kesannya sekolah agama berfokus pada ilmu agama dibandingkan sekolah-sekolah umum. Sehingga kesannya sekolah agama berfokus pada ilmu agama dan ilmu tertinggal. Tentunya hal ini bertolak belakang dari tujuan pendidikan yang dicita-citakan Indonesia yakni menginginkan terlahirnya insan kamil.

Akan tetapi seiring perkembangannya, lembaga pendidikan di Indonesia mulai menerapkan integrasi keilmuan, misalnya muncul lembaga pendidikan terpadu yang menerapkan pembelajaran integrasi atau terpadu. Yang didalamnya tidak memisahkan antara ilmu Fardhu ‘ain dengan ilmu Fardhu Kifayah yang keduanya diharapkan mampu membentuk insan paripurna atau Insan Kamil sekaligus sebagai khalifah di muka bumi ini.

Dan sesuai pada apa yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan PP No 19 Tahun 2005 tentang SNP mengamanatkan bahwa kurikulum pada jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan serta disusun sendiri oleh masing-masing satuan pendidikan, yakni dengan mengembangkan kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan dan potensi siswa, masyarakat dan lingkungannya.16 Lembaga pendidikan di Indonesia pun mulai merombak sistem pendidikannya yakni kurikulum, dengan integrasi keilmuan yang diharapkan mampu mengembangkan segala potensi dan mampu menghadapiperkembangan zaman yang tujuannya untuk menuju insan kamil tersebut, sesuai dengan pemikiran Al-Attas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdur Rahman, Ibnu Khaldun, Mukaddimah Ibnu Khaldun,(ALMisr,Maktabah Taufiqiyyah)  Asy-Syarafa, Ismail, Ensiklopedi Filsafat, terjemah Shofiyullah Mukhlas, ( Jakarta Timur, Khilafa, 2002)

Arifin,Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara. 2000)

Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendididikan Agama Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002)

Asy’ari, M. Hasyim. 2003. Menjadi Orang Pintar dan Benar (Adab al-Alim wa al-Muta’alim).Yogyakarta: CV. Qalam.

Barmawi, Ahmad, 118 Tokoh Muslim Genius Dunia, (Jakarta: Restu Agung, 2006)

Darajat zakiah, Ilmu Pendidikan Islam,  Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011

Fazlur Rahman, Tema- Tema Pokok Al-Qur’an (Bandung: Pustaka Pelajar, 1998)

Hasan, Muhammad Thalhah. 2006. DinamikaPemikirantentang Pendidikan Islam.Jakarta :LantaboraPersa

Header nashir, 1997. Agama dan Krisis Kemiskinan Modern. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hidayatullah syarif, , Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, 1981

Ibnu, Miskawaih, Tahdzib al-Akhlak. Beirut, Darul Kutub T.T

Imanatun, Edukasi Pemikiran Ibnu Khaldun, Perspektif Filsafat Pendidikan Islam, 2013.

Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, Jakarta: Pustaka firdaus, 2003

Karel A Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern (Jakarta: LP3ES, 1994), cet. Ke-2

Khuluq, Lathiful. 2008.Fajar Kebangunan Ulama-Biografi KH. Hasyim Asy’ari.Jogjakarta: PT. LkiS Pelangi Aksara.

Kurniawan, Syamsul. Mahrus, Erwin. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2011.

Lathiful Khuluq, 2000. Fajar Kebangunan Ulama. Biografi K.H. K.H. Hasyim Asy’ari, Yogyakarta:LKis

M. Syafi’i Ma’arif, Membumikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995)

Minarti sri, ilmu pendidikan islam fakta, teoritis-praktis dan aplikasi-normatif ( Jakarta : amza, 2013)

Miskawaih, Ibn. 1998. Tahdzib Al-Akhlaq, diterj. Helmi Hidayat (Menuju Kesempurnaan Akhlak :Buku Daras Pertama tentang Filsafat Etika). Bandung :Mizan

Muslim Az, Nor. 2003. Himmah Vol. IV No. 9 :Pemikiran Pendidikan Ibnu Misakwaih dan al-Qabisi, Relevan sinyadengan Pendidikan Kontemporer.

Muhammad Soeja, Cerita Tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, (Jakarta; Rhineka cipta. 1993)

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung Remaja Rosdakarya, 2004)

Naquib al-Attas, Muhammad, (1994), Konsep Pendidikan Dalam Islam, Terjemahan Haidar Baqier. Bandung: Mizan

Rizal,Samsul.2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta. Ciputat Pers.

Syamsul Kurniawan, Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011)

Suwendi. 2005. Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari.Jakarta: LeKDis.

Samsul Rizal, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : Ciputat Pers.. 2002)

Suwendi, 2004, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, cet. ke-1

Tamim, Hasan, Al-Muqoddimah DalamT ahdzib Al-Ahlaq Wa Tathhir Al-A’raq, Beirut: Mansyuratdar al Maktabah T.T

Zamakhsyari Dhofir, 2011, Tradisi Pesantren : studi pandangan hidup kyai dan visinya mengenai masa depan indonesi, Jakarta: LP3ES. cet. ke-9

Zuhairi Misrawi, 2010. Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asya’ri; Moderasi, Keumatan,  dan Kebangsaan, Jakarta: Kompas Media Nusantara

 

 

 

 

 

 

 

RIWAYAT HIDUP

 

Dr. H. Taufik Abdillah Syukur, MA lahir di Jakarta, 28 Maret 1978 dari ayah Dr. KH. Manarul Hidayat, M.Pd dan ibu Dra. Hj. Mahyanah, MH. 

Menempuh pendidikan S1 di Universitas Yarmouk Jordania, S2 di Universitas Islam Negeri (UIN)  Syarif Hidayatullah Jakarta dan S3 bidang pendidikan Islam di Universitas Ibnu Khaldun Bogor dan sebagai wisudawan terbaik pada wisuda yang ke-55 tahun 2012/2013.

Pernah menjadi santri dibeberapa pesantren diantaranya Pesantren Darul Ulum Jombang Jawa Timur, Pesantren al-Ihya Bogor Jawa Barat dan Ribath al-Jufri Madinah Munawwarah Saudi Arabia.

Pengalaman kerja pernah menjadi kepala sekolah TK Azhari, SD Azhari Islamic School Cilandak, SMP Al-Manar Azhari Depok, Kepada Madrasah Diniyah Al-Manar Azhari, Pegawai MTSN 19 Pondok Labu, Guru MTs Nurul Hidayah dan Pelaksana pada PD-Pontren Kementrian Agama Kota Jakarta Selatan.

Saat ini bekerja sebagai Dosen Ilmu Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Dpk pada Program Pascasarjana STAI Al-Hikmah Jakarta. Disamping itu, aktif sebagai Direktur Azhari Islamic School Cilandak, Ketua jurusan Tarbiyah STAI AL-Hikmah Jakarta, Ketua Pengurus Yayasan Hidayat Mahya Islami Jakarta, Ketua Pengurus Yayasan Nur Syafeka Hanum, Anggota Pengurus Yayasan al-Manar Azhari Depok, Pengurus Forum Komunikasi Pondok Pesantren Kota Depok dan wakil sekertaris Forum Doktor Islam Indonesia.

Penulis menikah dengan Hj. Siti Rafiqoh Rachman, M.Ag dan dikarunai 4 anak yaitu: Aisha Tara Athira, Farouk Tara Aldora, Elzeina Tara Rahmanar dan Hisyam Tara Hira. Penulis bisa dihubungi melalui email : abdillah2803@gmail.com.

Beberapa buku yang sudah diterbitkan antara lain: Metode Pengajaran Karakter (Rajawali Pers, 2014), Guru Berkarakter Nabawi (Pena Utama, 2016), Khutbah Pendidikan (CV. Patju Kreasi, 2018), Pemikiran Ahli Ra'y Terhadap Hukum Islam (CV. Patju Kreasi, 2018),  Manajemen Konflik Keluarga Menurut Al-Qur'an (CV. Patju Kreasi, 2018), Fitrah Manusia Menurut Al-Qur'an (CV. Patju Kreasi, 2018), Pemahaman Keagamaan Guru Pendidikan Agama Islam di DKI Jakarta (CV. Patju Kreasi, 2018), Ilmu Pendidikan Islam (Rajawali Pers, 2020), Pengantar Ilmu Pendidikan (CV. Patju Kreasi, 2021), Studi Islam (CV. Patju Kreasi, 2021).

Beberapa tulisan di Jurnal antara lain:  Metode Pengajaran Karakter Yang Digunakan Rasulullah SAW Kepada Para Sahabat Dalam Kitab Shahih Muslim (Hikmah Journal of Islamic Studies, 2017), Transformasi Pondok Pesantren dalam Menanggulangi Radikalisme Agama Pada Pondok Pesantren Daerah Penyangga Ibu Kota Jakarta (Hikmah Journal, 2018), Dampak Pemikiran Ahli Ra'y Terhadap Hukum Islam Kontemporer (Hikmah Journal of Islamic Studies, 2018), Teaching Methods in Pesantren to Tackle Religious Radicalism (Jurnal Pendidikan Islam, 2019),  The Relationship of Self Efficacy towards Improving Quality of Santri Organization in Daar El-Qolam (Ta'dib: Journal of Islamic Education, 2019), Teaching Methods Of Character Used To The Companions Of Prophet Muhammad In Saheeh Muslim (Kordinat| Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi, 2019),  Character Building Through Reinforcement of Islamic Learning (TARBIYA Journal, 2019),  Kompetensi Pendidikan Agama dalam Surat Al-'Alaq Perspektif Tafsir Al-Misbah Karya Muhammad Quraish Shibah (Hikmah Journal of Islamic Studies, 2020), Pengaruh Strategi Pembelajaran Active Knowledge Sharing Terhadap Motivasi Belajar Mata Kuliah Masa'ilul Fiqhiyah Mahasiswa STAI Alhikmah Jakarta (Hikmah Journal of Islamic Studies, 2020), Motivasi Mahasiswa Melanjutkan Pendidikan Ke STAI Alhikmah Jakarta (Hikmah Journal of Islamic Studies, 2021).

Penulis pernah mendapatkan penghargaan, kursus atau diklat antara lain: Diklat Pra Jabatan PNS (2003), Pelatihan Strategi dan Metodologi Pembelajaran Pada Pondok Pesantren (2003), Workshop Manajemen Mutu dan Metodologi Pengajaran (2004), Orientasi Pembimbing Calon Haji (2004), Seminar Pemberdayaan Pesantren untuk Transformasi Masyarakat (2005), Workshop, Sarasehan dan Pembinaan Tenaga Administrasi Pondok Pesantren (2005), In House Training di SMP Al-Manar (2006), Diklat Amtsilati (2006), Lokakarya Nasional Tentang Manasik dan Manajemen Haji (2006), In House Training Pumping Teacher Menjadi Guru Kaya dengan Memompa Potensi Diri dan Melejitkan Dunia Pendidikan (2006), Lokakarya Implementasi UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (2006), Orientasi Guru Mata Pelajaran Agama Islam Pada MTs Provinsi DKI Jakarta (2007), Workshop Pengintegrasian Perspektif Gender dalam Kurikulum Pengajaran Kitab Kuning di Pesantren (2007), Training Metode Menghafal Al-Qur’an Juz 30 dan Asmaul Husna (2007), Menumbuhkan Bakat, Minat dan Talenta Anak di Usia Dini (2008), Seminar Boarding School : Solusi Pendidikan untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan (2008), ESQ Leadership Training (2008), Sertifikat Pembimbing Haji dari Lembaga Dakwah (2009), Life Skill A Short Course Pelatihan Komputer Design Grafis (2009), Workshop Pemberdayaan Pengelolaan Bimbingan Ibadah Haji Tingkat Provinsi Jawa Barat (2009), Diklat Metodologi Qiraati (2010), International Seminar On Islamic Education, Islamization of Hinger Education: Models and Experiences in Muslim Word (2011), Diklat Sertifikasi Guru dalam Jabatan (2012), Micro Teaching & Orientasi Pengenalan Pendalaman dan Penerapan Metodologi Pembelajaran Program Baca Al-Qur’an (2012), Short Course Penelitian Metode Kuantitatif (2013), Implementasi Penilaian Kinerja Guru Kementrian Agama Jakarta Selatan (2014), Mengefektifkan Pendidikan Akhlak Mulia (2014), Penyusunan Silabus, Satuan Acara Perkuliahan, dan Materi Bahan Ajar Berbasis Integrasi Ilmu Agama dan Sains (2014), Evaluasi Kurikulum PAI Fakultas Tarbiyah UIN/STAIN (2014), Seminar Hasil Penelitian Kurikulum Prodi PAI Relevansi Kurikulum Prodi PAI dengan Kebutuhan Tugas Guru Mengajar di Sekolah dan Madrasah (2014), Diklat Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji Kementrian Agama Republik Indonesia (2015), Pelatihan Manajemen Masjid (2015), Radikalisme Agama dalam Perspektif Global dan Nasional (2015), Dewan Juri Pekan Olah Raga Seni Santri DKI Jakarta (2016), Workshop Penyusunan Silabus Mata Kuliah Responsif Gender (2016), Dewan Juri Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Jakarta Selatan (2017), Sertifikat Dosen Profesional (2018), Pelatihan Menulis untuk Dakwah (2018), International Forum on Islam, Education and Global Peace (2019), Pelatihan Pembuatan E-Module dan Video Pembelajaran (2019), Workshop RUU Pesantren (2019), Juri Pekan Olah Raga dan Seni Tingkat Kota Jakarta Selatan (2019), Sosialisasi dan Pemaparan Kurikulum al-Azhar al-Syarif Mesir (2019).



[1] DR.H. Samsul Rizal, M.A. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : Ciputat Pers.. 2002)155

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan Islami